BALAPULANG (9/7/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Balapulang terus memperkuat sinergi dengan para pemangku kepentingan dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada areal Agroforestry Tebu Mandiri (ATM) yang memasuki musim panen di tengah musim kemarau tahun 2026.
Program Agroforestry Tebu Mandiri (ATM) merupakan program strategis Perhutani yang bekerja sama dengan anak perusahaan PT Inhutani untuk mendukung swasembada gula nasional. Program ini mengintegrasikan budidaya tebu melalui skema agroforestry dengan melibatkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) sebagai mitra dalam pemberdayaan masyarakat desa sekitar hutan.
Koordinator ATM Inhutani V, Toni S, menyampaikan bahwa musim panen pada saat kemarau memiliki potensi risiko kebakaran yang cukup tinggi karena kondisi lahan dan vegetasi yang kering. Oleh karena itu, pihaknya terus bersinergi dengan Perhutani dan LMDH dalam melakukan sosialisasi bahaya karhutla serta patroli rutin sebagai langkah pencegahan.
“Kami bersinergi dengan Perhutani dan LMDH untuk melakukan sosialisasi bahaya karhutla serta patroli rutin sebagai upaya pencegahan. Alhamdulillah, hingga saat ini kondisi di seluruh lokasi ATM masih aman,” jelas Toni.
Sementara itu, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempol Jaya Tani, Desa Cibunar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, mengatakan bahwa program ATM telah berjalan sejak tahun 2022. Sejak awal pelaksanaannya, masyarakat melalui LMDH dilibatkan dalam berbagai tahapan pekerjaan, mulai dari land clearing (LC) untuk membersihkan vegetasi lama hingga land preparation (LP) berupa persiapan fisik dan kimia tanah sebelum penanaman tebu.
“Kami bersama masyarakat diberdayakan dalam berbagai tahapan pekerjaan sejak awal program berjalan. Selain memberikan manfaat ekonomi, kami juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga areal tanaman agar tetap aman dari ancaman kebakaran,” ungkapnya.
Mewakili Administratur KPH Balapulang, Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Margasari, Rosikin, menjelaskan bahwa areal Agroforestry Tebu Mandiri di wilayah BKPH Margasari tersebar di empat Resort Pemangkuan Hutan (RPH), yaitu RPH Kaligimber, RPH Kalisalak, RPH Kalibanteng, RPH Songgom, dan RPH Wanayasa. Seluruh lokasi tersebut berbatasan langsung dengan permukiman desa sehingga memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap potensi kebakaran.
“Saat ini kami terus bersinergi dengan LMDH dan masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan karhutla. Kami berharap panen tebu tahun 2026 dapat berjalan lancar tanpa terjadi kebakaran yang signifikan sehingga produksi tetap optimal dan kawasan hutan tetap terjaga kelestariannya,” pungkas Rosikin. (Bpl/Jul).
Editor : Naya
Copyright @2026













Leave a Reply