BANYUMAS TIMUR (19/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus mendorong pemahaman penyadap mengenai pentingnya menjaga mutu getah pinus dalam kegiatan penyadapan di petak 35 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Siweru, Selasa (18/08). Jumlah getah yang terkumpul banyak belum tentu menunjukkan mutu yang baik karena kuantitas dan kualitas merupakan dua aspek yang berbeda dalam proses produksi.
Administratur KPH Banyumas Timur melalui Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangkobar Sindar Pasaribu mengatakan bahwa hasil penyadapan tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah getah yang terkumpul. Kondisi fisik dan kebersihan getah juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan sejak proses penyadapan di lapangan.
“Getah yang terlihat banyak belum tentu memiliki mutu yang baik. Ada faktor kebersihan, kandungan air atau campuran lain, serta cara penanganannya setelah getah keluar dari pohon. Karena itu, penyadap perlu menjaga hasil sejak proses penyadapan sampai pengumpulan,” ujarnya.
Secara sederhana, kuantitas berkaitan dengan jumlah getah yang berhasil dikumpulkan, sedangkan mutu berkaitan dengan kondisi getah yang diterima. Getah dalam jumlah besar tetapi tercampur banyak kotoran atau air memiliki kondisi yang berbeda dengan getah yang lebih bersih dan sesuai dengan persyaratan penerimaan.
Kondisi getah dapat dipengaruhi sejak berada di bidang sadap. Debu, daun, kulit batang, maupun material lain dapat ikut tercampur apabila kebersihan area dan wadah tidak diperhatikan. Kandungan air juga perlu diwaspadai karena air hujan dapat tercampur dengan getah dan memengaruhi kondisi hasil yang dikumpulkan.
Waktu pengambilan hasil juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Getah yang terlalu lama berada di lapangan dapat mengalami perubahan fisik. Penanganan dan pengumpulan yang tepat diperlukan untuk menjaga kondisi hasil sebelum dibawa ke tempat penerimaan.
Dalam kegiatan ludang di petak 35 RPH Siweru, penyadap Mahwar melakukan pengumpulan hasil dari pohon-pohon yang telah disadap. Hasil tersebut direncanakan diselesaikan sebanyak dua fiber dalam satu periode sesuai dengan kebutuhan pengangkutan.
“Yang penting bukan hanya mengejar banyaknya hasil. Getah juga harus dijaga supaya tetap bersih dan tidak banyak tercampur. Kalau dari awal sudah diperhatikan, saat dibawa untuk disetor juga lebih mudah,” ujar Mahwar.
Pekerjaan penyadap tidak berhenti ketika getah keluar dari batang pohon. Proses pengumpulan dan penanganan juga turut menentukan kondisi hasil sebelum diterima. Karena itu, setiap tahapan perlu dilakukan dengan memperhatikan kebersihan dan tata cara yang tepat.
Kepala RPH Siweru Akhmad Muzamil menambahkan bahwa Perhutani terus mendorong penyadap untuk memperhatikan seluruh tahapan kegiatan, mulai dari teknik pembuatan luka sadap, menjaga kebersihan bidang sadap dan wadah, hingga pengumpulan hasil. Setiap tahapan tersebut dapat memengaruhi kondisi akhir getah.
Kegiatan pengecekan di tingkat tapak juga menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas sekaligus mutu getah. Dengan melihat langsung kondisi sadapan, Perhutani dapat memberikan pemahaman kepada penyadap agar tidak hanya mengejar volume, tetapi juga memperhatikan cara memperoleh hasil yang bersih dan sesuai mutu.
Produktivitas getah perlu dilihat dari dua sisi. Produksi yang tinggi penting untuk memenuhi kebutuhan, tetapi mutu juga harus dijaga agar hasil memiliki nilai dan dapat diproses dengan baik. Getah yang banyak sekaligus bersih dan sesuai mutu menjadi hasil yang lebih optimal.
Melalui pesan “Cerita Penjaga Hutan”, Perhutani mengajak masyarakat memahami pekerjaan penyadap secara lebih dekat. Di balik setiap fiber yang dikumpulkan terdapat proses yang membutuhkan ketelitian dan kepedulian untuk memastikan getah tidak hanya banyak, tetapi juga memiliki mutu yang baik. (Byt/Mei)
Editor: Nisa
Copyright © 2026
















Leave a Reply