BANYUMAS TIMUR (19/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus mendorong penyadap untuk menjaga kebersihan hasil sejak getah keluar dari batang pohon pada Rabu (19/08). Tanah, daun, kulit kayu, air, maupun benda asing lainnya mungkin terlihat sebagai pengotor kecil, tetapi jika terkumpul dalam jumlah banyak dapat memengaruhi kondisi dan penanganan getah pada tahap berikutnya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangkobar KPH Banyumas Timur Sindar Pasaribu mengatakan bahwa menjaga mutu getah tidak hanya dilakukan ketika hasil telah sampai di tempat penerimaan. Upaya mencegah masuknya pengotor perlu dimulai sejak proses penyadapan di lapangan.
“Getah yang bersih tidak hanya ditentukan oleh pohon dan teknik penyadapannya. Cara menampung dan mengambil hasil juga berpengaruh. Karena itu, hal-hal kecil seperti daun, tanah, kulit kayu, atau air perlu dicegah agar tidak ikut bercampur dengan getah,” ujarnya.
Getah pinus keluar dari batang dalam kondisi yang masih mudah berinteraksi dengan lingkungan. Setelah masuk ke wadah penampungan, getah dapat terkena berbagai material yang berada di sekitar pohon. Daun kering dapat jatuh dari tajuk, serpihan kulit kayu dapat ikut masuk saat pembaruan bidang sadap, sedangkan debu dan tanah dapat terbawa dari lingkungan sekitar.
Air juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Saat hujan turun, air dapat masuk ke wadah penampungan yang terbuka dan bercampur dengan getah sehingga memengaruhi kondisi hasil yang dikumpulkan. Oleh karena itu, penyadap perlu memperhatikan kondisi wadah dan lingkungan sekitar untuk mencegah masuknya air maupun pengotor lainnya.
Pengotor tidak hanya memengaruhi tampilan getah, tetapi juga perlu dipisahkan sebelum hasil diproses lebih lanjut. Dalam proses pengolahan resin, material asing seperti kulit kayu, jarum pinus, dan kotoran lainnya perlu dibersihkan agar tidak mengganggu tahapan berikutnya.
Karena itu, semakin sedikit pengotor yang masuk sejak awal, semakin mudah pula penanganan hasil pada tahap selanjutnya. Upaya menjaga kebersihan sejak tingkat sadapan menjadi bagian penting dalam menjaga mutu getah secara keseluruhan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam pengecekan lokasi sadapan milik penyadap Miswanto di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kalibening. Saat ini, Miswanto berada pada tahap Pembukaan Quarre (PQ) ke-3 dan siap melakukan ludang pada periode tersebut.
Penyadap Miswanto mengatakan bahwa kondisi bidang sadap dan wadah penampungan perlu diperhatikan selama bekerja. Menurutnya, kebersihan membantu mempermudah proses pengambilan sekaligus menjaga hasil agar tidak banyak tercampur pengotor.
“Kalau wadah dan bidang sadap bersih, pengambilan getah juga lebih mudah. Kami berusaha supaya hasil yang dikumpulkan tidak banyak tercampur kotoran dari sekitar pohon,” ujar Miswanto.
Pekerjaan penyadapan membutuhkan perhatian terhadap berbagai detail, mulai dari posisi wadah, kebersihan di sekitar bidang sadap, kondisi getah, hingga waktu pengumpulan. Setiap tahapan dapat berpengaruh terhadap kondisi hasil yang dibawa dari hutan.
Bagi masyarakat awam, satu daun yang jatuh ke wadah atau serpihan kulit kayu yang ikut terbawa mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun, jika hal tersebut terjadi berulang kali pada banyak pohon, jumlah pengotor yang terkumpul dapat menjadi signifikan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga mutu bukan hanya menjadi tanggung jawab pada tahap pengolahan. Upaya peningkatan mutu dapat dimulai dari tingkat tapak, dengan penyadap sebagai pihak yang berhadapan langsung dengan pohon dan hasil sadapan setiap hari.
Kepala RPH Kalibening Ripto menambahkan bahwa Perhutani terus mendorong pengecekan lapangan untuk memastikan kegiatan penyadapan berjalan dengan baik. Pemeriksaan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk mengingatkan penyadap bahwa produktivitas tidak hanya berkaitan dengan jumlah getah yang diperoleh.
Getah dalam jumlah banyak memang penting. Namun, hasil yang bersih dan tertangani dengan baik akan memberikan kondisi yang lebih baik untuk proses selanjutnya.
Melalui pesan “Hutan Lestari Kita”, Perhutani mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga hasil hutan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Mencegah satu daun, segenggam tanah, atau serpihan kulit kayu masuk ke dalam wadah merupakan tindakan sederhana yang apabila dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari upaya menjaga mutu getah sejak dari hutan hingga proses pengolahan. (Byt/Mei)
Editor: Nisa
Copyright © 2026
















Leave a Reply