Perhutani Tingkatkan Pembinaan bagi Penyadap di Watukumpul

PEKALONGAN TIMUR (01/10/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Timur melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Randudongkal meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap para penyadap getah pinus di wilayah kerjanya. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas produksi getah sekaligus memastikan kegiatan penyadapan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan serta memperhatikan kelestarian tegakan.

Kegiatan pembinaan penyadap dilaksanakan di wilayah Watukumpul dan dihadiri oleh Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Randudongkal Imron Ali Basach bersama tenaga alih daya yang turut mendukung kegiatan di lapangan. Sejumlah penyadap juga mengikuti kegiatan tersebut, salah satunya Warno yang aktif melakukan penyadapan getah pinus di wilayah tersebut.

Dalam kegiatan pembinaan, Imron Ali Basach melakukan komunikasi langsung dengan para penyadap untuk mengetahui kondisi dan berbagai kendala yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan penyadapan sehari-hari. Komunikasi tersebut juga menjadi sarana bagi jajaran BKPH Randudongkal untuk menyampaikan arahan terkait pelaksanaan penyadapan yang tertib dan sesuai dengan prosedur.

Imron Ali Basach menyampaikan bahwa pembinaan kepada para penyadap merupakan kegiatan penting yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Para penyadap menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung pencapaian target produksi getah pinus sehingga diperlukan pemahaman yang sama mengenai teknik penyadapan, ketertiban dalam bekerja, serta kepedulian terhadap kondisi tanaman.

“Pembinaan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk terus membangun komunikasi dengan para penyadap. Kami ingin memastikan kegiatan penyadapan berjalan dengan baik, produktivitas tetap terjaga, dan yang paling penting kondisi tegakan tetap diperhatikan,” ujar Imron.

Dalam kesempatan tersebut, jajaran BKPH Randudongkal juga mengingatkan para penyadap agar melaksanakan kegiatan penyadapan sesuai dengan teknik yang telah ditentukan. Penggunaan alat penyadapan harus dilakukan secara tepat agar tidak menimbulkan kerusakan pada batang pohon yang dapat memengaruhi pertumbuhan maupun produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

Selain aspek teknis, pembinaan juga diarahkan pada pentingnya menjaga ketertiban dalam proses pengumpulan dan penanganan getah. Setiap hasil produksi diharapkan dikelola melalui mekanisme yang telah ditetapkan sehingga proses pencatatan dan pengendalian produksi dapat berjalan dengan baik.

Kegiatan pembinaan tersebut juga menjadi kesempatan bagi para penyadap untuk menyampaikan kondisi yang mereka hadapi di lapangan. Dengan adanya komunikasi dua arah, berbagai masukan dari penyadap dapat menjadi bahan evaluasi bagi jajaran BKPH dalam meningkatkan pelayanan dan pengawasan kegiatan penyadapan.

Salah satu penyadap yang hadir, Warno, mengikuti kegiatan pembinaan dan berdialog bersama Imron Ali Basach. Kehadiran para penyadap secara langsung dalam kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi antara petugas Perhutani dan para pelaksana kegiatan penyadapan di lapangan.

Menurut jajaran BKPH Randudongkal, keberhasilan pengelolaan produksi getah tidak hanya ditentukan oleh pencapaian jumlah produksi, tetapi juga oleh bagaimana proses produksi dilaksanakan dengan memperhatikan aspek keselamatan kerja, ketertiban, kualitas, dan keberlanjutan tegakan.

Karena itu, pembinaan secara rutin menjadi salah satu langkah untuk membangun kesadaran bersama bahwa produktivitas dan kelestarian harus berjalan beriringan. Para penyadap diharapkan dapat menerapkan teknik penyadapan secara benar serta menghindari tindakan yang dapat merusak tanaman.

Tenaga alih daya yang hadir dalam kegiatan tersebut turut mendukung pelaksanaan pembinaan dan pemantauan di lapangan. Kehadiran tenaga alih daya diharapkan dapat membantu memperkuat pengawasan serta mempercepat penyampaian informasi apabila terdapat kondisi yang membutuhkan perhatian dari jajaran BKPH.

Selain pembinaan produksi, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk mengingatkan para penyadap mengenai pentingnya menjaga keamanan kawasan hutan. Para penyadap yang setiap hari beraktivitas di dalam kawasan hutan diharapkan dapat ikut berperan dalam menjaga kondisi lingkungan sekitar serta segera menyampaikan informasi apabila menemukan potensi gangguan keamanan maupun kejadian lain yang membutuhkan penanganan.

Imron Ali Basach menegaskan bahwa komunikasi dengan para penyadap akan terus dilakukan secara berkala. Menurutnya, hubungan yang baik antara Perhutani dan penyadap dapat mendukung terciptanya suasana kerja yang kondusif sekaligus memudahkan koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan produksi di lapangan.

“Harapannya, pembinaan seperti ini dapat terus dilakukan. Kami ingin para penyadap tidak hanya mengejar hasil produksi, tetapi juga memahami bahwa menjaga pohon dan kawasan hutan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Perhutani KPH Pekalongan Timur melalui BKPH Randudongkal akan terus melakukan pemantauan terhadap kegiatan penyadapan di wilayah kerja. Pemantauan tersebut mencakup kondisi tegakan, pelaksanaan teknik penyadapan, aktivitas produksi, serta aspek ketertiban dan keamanan kawasan.

Upaya pembinaan secara berkelanjutan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman para penyadap sekaligus mendorong terciptanya kegiatan penyadapan yang lebih tertib dan bertanggung jawab. Dengan demikian, produksi getah pinus dapat terus memberikan manfaat ekonomi bagi para penyadap sekaligus mendukung kinerja pengelolaan hasil hutan bukan kayu KPH Pekalongan Timur.

Kegiatan pembinaan di Watukumpul tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran jajaran Perhutani di tengah para penyadap. Melalui komunikasi, pembinaan, dan pengawasan secara langsung, BKPH Randudongkal berupaya membangun kerja sama yang semakin baik dengan para penyadap di wilayah kerja.

Dengan dukungan tenaga alih daya serta partisipasi para penyadap, termasuk Warno, Perhutani KPH Pekalongan Timur melalui BKPH Randudongkal berkomitmen untuk terus meningkatkan pengelolaan produksi getah pinus yang tertib, produktif, aman, dan tetap mengedepankan kelestarian hutan. (Pkt/Ran)

Editor: Intan

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *