Perhutani Cepu Hijaukan Kawasan Perlindungan untuk Jaga Ketersediaan Air

CEPU (26/10/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu melakukan penghijauan kawasan perlindungan melalui penanaman tanaman buah pada Senin (26/10). Kegiatan ini merupakan upaya nyata untuk menjaga kelestarian hutan sekaligus memulihkan fungsi ekosistem.

Penghijauan tersebut bertujuan meningkatkan tutupan vegetasi, menjaga kesuburan tanah, serta mendukung ketersediaan air bagi lingkungan dan masyarakat sekitar hutan. Selain memberikan manfaat ekologis, penanaman tanaman buah diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi kelestarian kawasan hutan dalam jangka panjang.

Administratur KPH Cepu, Yeni Ernaningsih, menyampaikan bahwa penghijauan kawasan perlindungan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam, terutama dalam menghadapi ancaman berkurangnya ketersediaan air saat musim kemarau. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh rendahnya curah hujan dalam jangka waktu yang panjang, tetapi juga berkaitan dengan berkurangnya fungsi hutan sebagai penyimpan cadangan air alami.

“Pohon dan hutan berfungsi seperti spons alami yang menyerap air hujan saat musim penghujan dan membantu menyimpannya sebagai cadangan air tanah. Tanpa tutupan vegetasi yang memadai, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan dan tidak memiliki cukup kesempatan untuk meresap ke dalam tanah,” ungkapnya.

Yeni menambahkan bahwa penanaman tanaman buah merupakan salah satu upaya untuk memperkuat tutupan vegetasi sekaligus memulihkan fungsi ekologis kawasan perlindungan. Melalui kegiatan tersebut, Perhutani berharap pertumbuhan tanaman dapat membantu menjaga struktur tanah, mengurangi risiko erosi, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air. Perawatan tanaman setelah penanaman juga menjadi faktor penting agar bibit dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat lingkungan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tunggak Semi, Zaenal Arifin, menyampaikan bahwa keberadaan pohon sangat penting untuk menjaga ketersediaan air, khususnya saat musim kemarau.

“Saat musim kemarau, cadangan air tanah dapat lebih cepat habis karena pasokan air berkurang dan tidak ada lagi dukungan optimal dari sistem perakaran pohon serta tutupan vegetasi. Oleh karena itu, penanaman pohon harus terus dilakukan dan diimbangi dengan perawatan agar kawasan hutan tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai penyangga kehidupan,” ujarnya.

Zaenal juga menyoroti perubahan lahan hijau menjadi permukiman, perkebunan, maupun kawasan yang tertutup beton sebagai salah satu faktor yang dapat mengurangi kemampuan tanah menyerap air apabila tidak dikelola dengan baik. Permukaan tanah yang tertutup bangunan dan material kedap air membuat air hujan lebih sulit meresap sehingga meningkatkan limpasan air di permukaan.

Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk menjaga kawasan hijau, tidak melakukan perusakan hutan, serta turut merawat tanaman menjadi bagian penting dalam mempertahankan keseimbangan lingkungan dan mencegah berkurangnya sumber air. (Cpu/Pai).

Editor: Annisha

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *