Lewat Seni Tradisional Sampyong, Perhutani Balapulang Gencarkan Edukasi Jaga Hutan

BALAPULANG (05/07/2026) | Perum Perhutani KPH Balapulang mendukung pelestarian kesenian tradisional Sampyong yang digelar di Lapangan Balapulang Kulon, Kabupaten Tegal, bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Balapulang, Minggu (05/07). Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Sampyong merupakan kesenian tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun di Desa Balapulang Wetan dan berkembang di wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura). Kesenian ini menampilkan atraksi adu ketangkasan dan kekuatan menggunakan tongkat sepanjang 60 hingga 70 sentimeter. Pada masa lalu, keterampilan tersebut juga pernah dimanfaatkan sebagai bekal kemampuan bagi para penjaga hutan dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap keamanan kawasan hutan.

Pertunjukan yang disaksikan antusias oleh masyarakat tersebut dinilai memiliki potensi menjadi media penyuluhan kehutanan, khususnya di desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Melalui pendekatan budaya, pesan-pesan tentang pelestarian hutan dan pencegahan kebakaran hutan diharapkan lebih mudah diterima masyarakat.

Administratur KPH Balapulang, melalui Kepala Seksi Sumber Daya Hutan, Kemitraan, dan Perhutanan Sosial (KSS HKAPS), Djuli Kusnadi, yang hadir bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), menyampaikan bahwa Perhutani siap mendukung pelestarian kesenian Sampyong sebagai bagian dari upaya membangun kepedulian masyarakat terhadap hutan.

“Perhutani siap memfasilitasi tempat latihan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Pertunjukan kali ini dihadiri banyak masyarakat, termasuk warga desa yang berbatasan dengan kawasan hutan. Momentum ini juga kami manfaatkan untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan dan antisipasi kebakaran hutan. Apabila diperlukan peralatan berupa tongkat kayu sebagai sarana latihan, Perhutani siap memfasilitasinya,” ujar Djuli.

Sementara itu, salah seorang pelaku seni Sampyong asal Balapulang, Fery, mengatakan bahwa kesenian tersebut masih mendapat perhatian masyarakat, terutama menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Menjelang HUT Kemerdekaan RI, banyak desa yang masih menampilkan kesenian Sampyong. Kami berharap seluruh pemangku kepentingan terus mendukung pelestarian budaya ini agar tetap diminati dan tidak dilupakan oleh generasi muda,” ungkap Fery.

Melalui kolaborasi antara pelestarian budaya dan edukasi kehutanan, Perhutani KPH Balapulang berharap kesenian tradisional Sampyong dapat terus berkembang sebagai warisan budaya sekaligus menjadi media yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan. (Bpl/Jul)

Editor: Naya

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *