KEDU SELATAN (18/7/2026) | Tradisi Selametan Suran kembali digelar di Tempat Penimbunan Getah (TPG) Sirangkok, RPH Karangsambung, BKPH Kebumen, KPH Kedu Selatan, Jumat Kliwon (17/7). Kegiatan yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan Suro ini merupakan bentuk pelestarian tradisi sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan keselamatan selama menjalankan tugas di kawasan hutan.
Kegiatan tersebut dihadiri Asisten Perhutani (Asper) BKPH Kebumen Nur Ikhsan, Kepala RPH Karangsambung Suntoko, tokoh kesepuhan Punden Sirangkok Mbah Martono, aparatur Pemerintah Desa Wonosari, Kecamatan Sadang, serta para pesanggem dan penyadap getah TPG Sirangkok. Kehadiran seluruh unsur tersebut menunjukkan sinergi antara Perhutani, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan para pekerja hutan dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya.
Administratur/Kepala KPH Kedu Selatan melalui Asisten Perhutani BKPH Kebumen Nur Ikhsan menyampaikan bahwa tradisi Suran merupakan warisan budaya yang sarat makna. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara jajaran Perhutani dengan para penyadap yang selama ini menjadi mitra penting dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu, khususnya getah pinus.
“Tradisi Suran merupakan warisan budaya yang patut dilestarikan. Melalui kegiatan ini, kami berharap hubungan baik antara Perhutani dan masyarakat, khususnya para penyadap getah, semakin erat sehingga mampu mendukung pengelolaan hutan yang lestari dan berkelanjutan,” ujar Nur Ikhsan.
Kepala RPH Karangsambung Suntoko turut mengajak seluruh penyadap untuk terus menjaga keselamatan kerja, meningkatkan disiplin dalam penyadapan, serta bersama-sama menjaga kawasan hutan dari berbagai gangguan, seperti kebakaran, pencurian, maupun perusakan hutan.
Sementara itu, tokoh kesepuhan Punden Sirangkok Mbah Martono mengungkapkan bahwa tradisi Selametan Suran merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama agar masyarakat dan hutan senantiasa diberi keselamatan.
“Tradisi ini mengajarkan kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan kepada alam. Kami berharap masyarakat terus menjaga kelestarian hutan karena hutan yang lestari akan membawa berkah dan manfaat bagi kehidupan bersama,” tuturnya.
Melalui Selametan Suran di TPG Sirangkok, nilai-nilai gotong royong, rasa syukur, dan kepedulian terhadap kelestarian hutan kembali diteguhkan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan doa merupakan fondasi penting dalam mendukung pengelolaan hutan yang lestari, produktif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta generasi mendatang. (Kds/Bhs)
Editor: Hening
Copyright © 2026
















Leave a Reply