Antisipasi Lonjakan Pengunjung, Perhutani KPH Kedu Utara Perketat Aturan Pendakian Sumbing

KEDU UTARA (22/06/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mugi Lestari melaksanakan komunikasi sosial (komsos) dengan pengelola Basecamp Pendakian Gunung Sumbing via Garung yang dikenal dengan Basecamp Stickpala. Kegiatan ini berlangsung di kawasan hutan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Anggrunggondok, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wonosobo, sebagai langkah antisipasi meningkatnya jumlah pendaki sekaligus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengelolaan sampah pendakian, Sabtu (20/06).

Kegiatan komsos tersebut dihadiri jajaran Perhutani BKPH Wonosobo, pengurus LMDH Mugi Lestari, serta pengelola Basecamp Stickpala. Dalam pertemuan tersebut dibahas berbagai langkah preventif dalam menghadapi potensi lonjakan pengunjung, terutama pada musim libur dan akhir pekan yang biasanya diikuti peningkatan aktivitas pendakian di Gunung Sumbing.

Selain pengaturan arus pendaki, Perhutani juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan dari ancaman kebakaran. Para pendaki diimbau untuk tidak menyalakan api secara sembarangan, memastikan puntung rokok benar-benar padam, serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan indikasi kebakaran atau aktivitas yang berpotensi menimbulkan karhutla.

Aspek pengelolaan sampah pendakian juga menjadi perhatian bersama. Melalui koordinasi tersebut, seluruh pihak sepakat untuk terus mengampanyekan budaya “bawa turun sampahmu” kepada para pendaki, serta meningkatkan pengawasan terhadap kebersihan jalur pendakian dan area basecamp. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ekosistem hutan tetap lestari sekaligus memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.

Administratur KPH Kedu Utara melalui Kepala BKPH Wonosobo, Naufal Rafif, menyampaikan bahwa sinergi dengan masyarakat desa hutan dan pengelola jalur pendakian merupakan bagian penting dalam menjaga kelestarian kawasan hutan yang juga dimanfaatkan sebagai destinasi wisata alam.

“Komunikasi dan koordinasi yang baik dengan para pemangku kepentingan di sekitar kawasan hutan sangat diperlukan, terutama dalam menghadapi potensi meningkatnya jumlah pendaki. Selain memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung, upaya ini juga menjadi sarana edukasi terkait pencegahan karhutla serta pengelolaan sampah agar kelestarian hutan tetap terjaga,” ujarnya.

Ketua LMDH Mugi Lestari, Sumardi, menyatakan pihaknya mendukung langkah Perhutani dalam memperkuat pengawasan dan edukasi kepada para pendaki. Menurutnya, keterlibatan masyarakat sekitar menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan fungsi hutan sekaligus mendukung sektor wisata alam.

“Kami siap bersinergi bersama Perhutani dan pengelola basecamp untuk memberikan pemahaman kepada para pendaki agar lebih peduli terhadap kebersihan serta tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran hutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Basecamp Stickpala, Andi Setiawan, menyambut baik kegiatan komunikasi sosial tersebut. Ia mengatakan pihaknya terus berupaya memberikan edukasi kepada para pendaki mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan menaati aturan selama berada di kawasan hutan.

“Keselamatan pendaki dan kelestarian alam menjadi prioritas bersama. Dengan adanya koordinasi ini, kami berharap kesadaran para pendaki semakin meningkat sehingga aktivitas wisata dapat berjalan dengan aman, nyaman, dan tetap berwawasan lingkungan,” ujarnya.

Melalui sinergi antara Perhutani KPH Kedu Utara, LMDH, dan pengelola Basecamp Stickpala, diharapkan upaya antisipasi lonjakan pendaki, pencegahan karhutla, serta pengelolaan sampah di jalur pendakian Gunung Sumbing via Garung dapat berjalan optimal, sehingga kelestarian kawasan hutan RPH Anggrunggondok, BKPH Wonosobo tetap terjaga secara berkelanjutan. (Kdu/Nurul)

Editor: Hening

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *