PURWODADI, PERHUTANI (09/06/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi menggelar kegiatan bancaan wiwitan sebagai penanda dimulainya proses tebangan tahun 2026 di wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tumpuk, Senin (09/06). Kegiatan yang berlangsung di Petak 68H Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Tumpuk tersebut diikuti oleh jajaran Perhutani, tenaga tebangan, serta warga Desa Tumpuk.
Bancaan wiwitan merupakan tradisi budaya masyarakat Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa bersama agar seluruh rangkaian pekerjaan berjalan lancar, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun kelestarian hutan.
Kegiatan diawali dengan doa bersama dan bancaan yang dihadiri para pekerja tebangan serta masyarakat sekitar hutan. Setelah prosesi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mengenai keselamatan kerja, tata cara pelaksanaan tebangan yang sesuai ketentuan teknis, serta pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan pasca pemanenan.
Pada tahun ini, kegiatan tebangan di Petak 68H RPH Tumpuk BKPH Tumpuk dilakukan pada tegakan mahoni dengan jumlah pohon sebanyak 912 pohon dan target produksi mencapai 280,401 meter kubik (m³). Pelaksanaan tebangan dilakukan sesuai prinsip pengelolaan hutan lestari dengan memperhatikan aspek kelestarian sumber daya hutan, keselamatan kerja, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Administratur KPH Purwodadi melalui Kepala BKPH Tumpuk Sudaryono menyampaikan bahwa bancaan wiwitan tidak hanya menjadi simbol dimulainya pekerjaan tebangan, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal yang masih terjaga di tengah pelaksanaan pengelolaan hutan modern.
“Tradisi bancaan wiwitan merupakan kearifan lokal yang memiliki makna mendalam. Selain sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara Perhutani, tenaga kerja, dan masyarakat desa sekitar hutan. Kami berharap seluruh proses tebangan dapat berjalan dengan aman, tertib, mencapai target produksi yang ditetapkan, serta tetap mengedepankan prinsip kelestarian hutan,” ujar Sudaryono.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hasil pemanenan hutan merupakan bagian dari siklus pengelolaan hutan lestari yang nantinya akan diikuti dengan kegiatan penanaman kembali sehingga keberlangsungan fungsi hutan dapat terus terjaga.
Sementara itu, salah satu warga Desa Tumpuk, Sujadi, mengapresiasi pelaksanaan tradisi wiwitan yang masih dilestarikan oleh Perhutani bersama masyarakat.
“Kami merasa senang karena tradisi yang sudah ada sejak dahulu tetap dilaksanakan. Selain menjadi doa bersama untuk keselamatan para pekerja, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan antara masyarakat dan Perhutani. Semoga pekerjaan tebangan berjalan lancar, hasilnya baik, dan membawa manfaat bagi semua pihak,” ungkap Sujadi.
Melalui kegiatan bancaan wiwitan ini, Perhutani KPH Purwodadi menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan pengelolaan hutan lestari, sehingga tercipta hubungan harmonis antara perusahaan, masyarakat, dan lingkungan dalam mendukung keberlanjutan sumber daya hutan untuk generasi mendatang.
Editor : Diono
















Leave a Reply