Umbul Jumprit yang berada di kawasan hutan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kwadungan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Temanggung, merupakan salah satu lokasi yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi bagi umat Buddha. Setiap tahun, sumber mata air alami tersebut menjadi lokasi pengambilan Air Suci yang selanjutnya dibawa ke Candi Borobudur sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Waisak.
Sebagai pengelola kawasan hutan, Perhutani berupaya memberikan dukungan maksimal agar kegiatan keagamaan dan budaya tersebut dapat berlangsung dengan aman, tertib, serta tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari koordinasi lintas sektor dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, hingga kelompok masyarakat desa hutan.
Administratur KPH Kedu Utara, Andrie Syailendra, menyampaikan bahwa keberadaan Umbul Jumprit tidak hanya memiliki fungsi ekologis sebagai sumber mata air yang harus dijaga kelestariannya, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Perhutani memiliki komitmen untuk menjaga keseimbangan antara fungsi ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi. Melalui kegiatan pengambilan Air Suci Waisak ini, kita dapat melihat bagaimana kawasan hutan mampu menjadi ruang yang harmonis bagi pelestarian budaya, praktik keagamaan, serta upaya konservasi alam. Perhutani akan terus berupaya menjaga kelestarian budaya yang memiliki nilai spiritual tinggi sekaligus memastikan kelestarian sumber daya alam tetap terjaga,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan hutan tidak dapat dilakukan oleh Perhutani sendiri. Oleh karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kawasan hutan yang memiliki nilai penting bagi masyarakat.
“Perhutani terbuka untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Sinergi lintas sektor sangat diperlukan agar kawasan hutan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan, budaya, agama, dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Kepala Desa Tegalrejo, Wigati, mengapresiasi dukungan Perhutani yang selama ini terus menjaga kawasan Umbul Jumprit sehingga tetap lestari dan mampu menjadi pusat kegiatan budaya maupun keagamaan yang dikenal hingga tingkat nasional.
“Keberadaan Umbul Jumprit membawa manfaat besar bagi masyarakat Desa Tegalrejo. Selain menjadi lokasi kegiatan keagamaan, kawasan ini juga menjadi daya tarik wisata yang mendukung perekonomian warga. Kami berterima kasih kepada Perhutani yang terus bersinergi dalam menjaga kawasan ini agar tetap lestari dan nyaman bagi para pengunjung,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ketua LMDH Tegal Makmur, Sugito, menyampaikan bahwa masyarakat desa hutan turut merasakan manfaat langsung dari keberadaan kawasan wisata dan kegiatan keagamaan yang berlangsung di Umbul Jumprit.
“Melalui keberadaan Umbul Jumprit, masyarakat memperoleh peluang usaha di sektor wisata, perdagangan, jasa parkir, kuliner, hingga penyediaan kebutuhan pengunjung. Kami bersama Perhutani berkomitmen menjaga kebersihan, keamanan, dan kelestarian kawasan hutan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh generasi mendatang,” katanya.
Melalui dukungannya terhadap tradisi pengambilan Air Suci Waisak di Umbul Jumprit, Perhutani menunjukkan bahwa pengelolaan hutan tidak hanya berorientasi pada aspek produksi dan konservasi, tetapi juga memberikan ruang bagi pelestarian budaya, penguatan nilai-nilai spiritual, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, Perhutani KPH Kedu Utara berharap kawasan Umbul Jumprit dapat terus menjadi simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan budaya yang diwariskan kepada generasi mendatang. (Kdu/Nurul)
Editor: Diono
Copyright © 2026















Leave a Reply