Perhutani Lakukan Pemantauan Sadapan Setelah Patroli Pencegahan di RPH Jatilawang

BANYUMAS TIMUR (18/10/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur memantau kegiatan pengelolaan hutan sekaligus penyadapan getah pinus untuk mendukung ketertiban pekerjaan di lapangan, Sabtu (17/10). Dalam pengumpulan getah, hasil sering disebut menggunakan satuan wadah, seperti kandi, fiber, atau omplong. Namun, satu wadah tidak otomatis memiliki berat getah yang sama dengan wadah lainnya. Perbedaan ini penting dipahami agar perkiraan hasil tidak disamakan begitu saja dengan berat aktual.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatilawang, Pratikno, menjelaskan bahwa satuan wadah membantu penyadap dan petugas mengenali jumlah kemasan yang dikumpulkan. Sementara itu, berat getah perlu diketahui melalui proses penimbangan sesuai prosedur yang berlaku. Kedua informasi tersebut saling melengkapi, tetapi memiliki arti yang berbeda dalam pencatatan hasil produksi.

“Dalam pemantauan hasil penyadapan, jumlah wadah dan berat getah merupakan dua informasi yang berbeda. Jumlah kandi menunjukkan banyaknya wadah yang disetorkan, sedangkan beratnya perlu diketahui melalui penimbangan. Karena itu, pencatatan perlu mengacu pada hasil aktual agar informasi produksi lebih akurat,” ujarnya.

Satu kandi merupakan satuan wadah yang digunakan untuk mengumpulkan atau membawa getah. Akan tetapi, jumlah getah di dalamnya dapat berbeda. Perbedaan tersebut bisa dipengaruhi oleh tingkat keterisian wadah, kondisi getah saat dikumpulkan, serta cara penanganan sebelum setoran dilakukan. Kandi yang terisi penuh pun belum tentu memiliki berat bersih yang sama dengan kandi lain apabila kondisi dan kepadatan isinya berbeda.

Karena itu, mengalikan jumlah kandi dengan perkiraan berat tertentu hanya dapat digunakan apabila kapasitas dan dasar perhitungannya telah diketahui serta sesuai dengan kondisi setoran. Jika belum ada acuan yang terverifikasi, jumlah wadah sebaiknya tetap dicatat sebagai jumlah wadah. Berat aktual dicatat berdasarkan hasil penimbangan. Pemisahan ini membantu mencegah perbedaan antara estimasi dan realisasi dalam laporan produksi.

Pemahaman terhadap data hasil penyadapan juga perlu berjalan seiring dengan pemantauan kondisi hutan. Kegiatan produksi berlangsung di kawasan yang membutuhkan perhatian terhadap keamanan dan kelestarian tegakan. Patroli preventif menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi gangguan keamanan hutan (gukamhut) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika petugas beraktivitas di wilayah kerja.

Kegiatan tersebut terlihat dalam patroli preventif bersama Komandan Regu Polisi Hutan Mobile dan Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Jatilawang dan Tenaga Alih Daya (TAD). Patroli dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan hutan serta karhutla. Kehadiran petugas di lapangan menjadi bagian dari upaya deteksi dini, pengamatan kondisi kawasan, dan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi gangguan.

Setelah patroli, kegiatan dilanjutkan dengan pengecekan lokasi sadapan milik Nakum. Dalam pengecekan tersebut, Nakum sedang melaksanakan pembukaan quarre kedua. Tahapan ini merupakan bagian dari pekerjaan penyadapan yang perlu dilakukan dengan memperhatikan teknik kerja dan kondisi pohon. Pemantauan lokasi membantu petugas mengetahui perkembangan aktivitas penyadap sekaligus melihat kondisi pekerjaan secara langsung.

Pembukaan quarre berkaitan dengan pengerjaan bidang sadap agar getah dapat keluar dan mengalir menuju talang serta wadah penampungan. Pelaksanaannya perlu memperhatikan ketentuan teknis yang berlaku dan kondisi pohon.

“Hasil yang terkumpul kemudian dapat dipantau melalui jumlah wadah yang digunakan, sedangkan berat aktualnya diketahui melalui penimbangan ketika dilakukan penerimaan,” kata Nakum.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan getah pinus tidak hanya berhubungan dengan jumlah hasil yang dikumpulkan. Ketepatan pencatatan, pemantauan pekerjaan penyadap, dan penjagaan kondisi kawasan merupakan bagian dari pengelolaan hutan yang saling mendukung. Informasi lapangan yang jelas membantu petugas membedakan perkembangan pekerjaan, jumlah wadah, dan berat hasil yang benar-benar diterima.

Melalui semangat Cerita Penjaga Hutan, Perhutani terus mendorong pengelolaan hasil hutan yang tertib sekaligus memperhatikan keamanan kawasan. Memahami perbedaan satuan wadah dan berat merupakan langkah sederhana untuk menjaga ketepatan data. Sementara itu, patroli preventif dan pemantauan aktivitas penyadapan membantu mendukung kegiatan lapangan yang bertanggung jawab serta berorientasi pada kelestarian hutan. (Byt/Mei)

Editor: Farah

Copyright ©️ 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *