PURWODADI, PERHUTANI (11/09/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melalui jajaran Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatipohon melaksanakan kegiatan hajatan dan selamatan dalam rangka pembukaan lahan andil garapan di petak 117 D-1, seluas 7,4 hektare, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jangglengan, BKPH Jatipohon, pada Jumat (11/09/2026).
Kegiatan hajatan dan selamatan tersebut menjadi bagian dari tradisi masyarakat dalam mengawali aktivitas penggarapan lahan dengan memanjatkan doa serta ungkapan rasa syukur agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar, aman, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain sebagai bentuk rasa syukur, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara jajaran Perhutani dengan masyarakat sekitar hutan, khususnya para pesanggem yang mendapatkan kesempatan mengelola lahan andil secara bertanggung jawab.
Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Perhutani BKPH Jatipohon bersama pesanggem penggarap lahan andil. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan terlihat dalam pelaksanaan hajatan dan selamatan yang dilaksanakan sebelum lahan mulai digarap.
Administratur KPH Purwodadi Tri Untoro Kurniawan melalui Kepala BKPH Jatipohon Tutut Sugianto menyampaikan bahwa kegiatan selamatan pembukaan lahan merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat yang sekaligus menjadi sarana membangun komunikasi dan kebersamaan antara Perhutani dengan para pesanggem.
“Melalui kegiatan hajatan dan selamatan ini, kami berharap para pesanggem dapat mengawali penggarapan lahan dengan niat yang baik, penuh rasa syukur, serta tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku. Lahan andil merupakan bagian dari kawasan hutan yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab, sehingga kegiatan penggarapan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga tetap mendukung kelestarian hutan,” ujar Tutut.
Ia menambahkan, keberadaan pesanggem memiliki peran penting dalam membantu Perhutani menjaga kawasan hutan. Oleh karena itu, para penggarap diharapkan turut berperan aktif dalam menjaga keamanan hutan, mencegah kebakaran hutan dan lahan, tidak melakukan penebangan pohon secara ilegal, serta menjaga tanaman kehutanan yang berada di sekitar lahan garapan.
“Pesanggem kami harapkan tidak hanya menjadi penggarap, tetapi juga menjadi mitra Perhutani dalam menjaga hutan. Pemanfaatan lahan harus dilakukan secara tertib dengan tetap memperhatikan tanaman kehutanan, kesuburan tanah, dan keberlangsungan fungsi kawasan hutan. Dengan demikian, manfaat ekonomi dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian hutan,” lanjutnya.
Sementara itu, Sulastri, salah satu pesanggem di petak 117 D-1, menyampaikan rasa syukur atas pelaksanaan hajatan dan selamatan tersebut. Menurutnya, kegiatan selamatan menjadi momentum penting bagi para pesanggem untuk mengawali penggarapan lahan dengan penuh rasa syukur sekaligus membangun kebersamaan antar-penggarap dan Perhutani.
“Kami bersyukur bisa melaksanakan selamatan sebelum mulai menggarap lahan. Harapannya kegiatan penggarapan ini diberikan kelancaran dan hasil yang baik. Kami juga siap menjaga lahan dan kawasan hutan, mengikuti arahan Perhutani, serta ikut menjaga tanaman dan lingkungan hutan agar tetap lestari,” ungkap Sulastri.
Lahan andil garapan petak 117 D-1 merupakan bekas tebangan A tahun 2026 dengan luas 7,4 hektare. Dalam pelaksanaannya, penggarapan lahan diharapkan tetap memperhatikan prinsip pengelolaan hutan yang lestari dan tidak mengganggu fungsi utama kawasan hutan.
Perhutani terus mendorong terbangunnya hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar hutan melalui komunikasi, pendampingan, dan kerja sama dalam pengelolaan kawasan. Keterlibatan masyarakat melalui kegiatan andil garapan diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian terhadap keberadaan hutan.
Melalui kegiatan hajatan dan selamatan pembukaan lahan andil garapan tersebut, Perhutani KPH Purwodadi menegaskan bahwa pemanfaatan kawasan hutan harus dilaksanakan secara seimbang, dengan mengedepankan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan sinergi antara Perhutani dan pesanggem, diharapkan kawasan hutan tetap terjaga, produktif, aman, dan lestari sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.
Editor : Diono
















Leave a Reply