BANYUMAS TIMUR (04/08/2026) | Perum Perhutani memberikan pengarahan kepada mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti sebelum pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di wilayah kerja KPH Banyumas Timur, Senin (03/08). Kegiatan ini menjadi langkah awal agar mahasiswa memahami kondisi lapangan sebelum terjun mempelajari berbagai aspek pengelolaan hutan secara langsung.
Pengarahan tidak hanya membahas teknis pelaksanaan PKL. Perhutani juga menjelaskan peran mahasiswa sebagai calon rimbawan yang akan berhadapan dengan tantangan pengelolaan hutan yang semakin kompleks. Mahasiswa akan mempelajari pengelolaan ekowisata, Kehutanan Masyarakat atau Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), over review pengelolaan hutan, tata batas wilayah, penyusunan rencana pengelolaan Perhutani, ekologi hutan melalui analisis vegetasi, perlindungan hutan, upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, hingga pengendalian hama dan penyakit.
Materi tersebut dipilih karena menggambarkan pekerjaan kehutanan yang saling berkaitan. Pengelolaan hutan tidak hanya berfokus pada pohon. Di dalamnya terdapat aspek sosial, ekonomi, lingkungan, hingga kepastian batas kawasan yang harus dipahami secara utuh. Pemahaman inilah yang diharapkan menjadi bekal mahasiswa selama mengikuti PKL.
Wakil Administratur KPH Banyumas Timur, Sindar Pasaribu, mengatakan bahwa praktik lapangan menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat langsung bagaimana teori diterapkan dalam pengelolaan hutan.
“Perhutani ingin mahasiswa memahami bahwa mengelola hutan membutuhkan keseimbangan antara kelestarian alam dan kebutuhan masyarakat. Banyak keputusan di lapangan yang tidak bisa dipahami hanya melalui pembelajaran di kelas. Karena itu, PKL menjadi ruang belajar yang sangat penting,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan hutan saat ini menuntut kemampuan berpikir menyeluruh. Seorang rimbawan harus memahami fungsi kawasan, menjaga keanekaragaman hayati, mengantisipasi ancaman kebakaran, mengendalikan gangguan hama dan penyakit, serta mampu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar hutan.
Di sisi lain, keberadaan mahasiswa di lapangan juga menjadi kesempatan untuk memperkaya sudut pandang. Pengamatan, diskusi, dan hasil kajian akademik dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi pengelolaan hutan di masa mendatang.
Salah seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti, Silvi Amanda, mengaku pengarahan tersebut membuka pemahamannya mengenai luasnya ruang lingkup pekerjaan kehutanan.
“Selama ini kami banyak mempelajari teori di kampus. Setelah mendapat pengarahan, kami jadi mengetahui bahwa pengelolaan hutan melibatkan banyak aspek yang saling berkaitan. Kami berharap bisa belajar langsung dari pengalaman para petugas Perhutani di lapangan,” katanya.
Bagi masyarakat umum, istilah pengelolaan hutan sering kali identik dengan penanaman pohon. Padahal, pekerjaan kehutanan mencakup jauh lebih banyak. Penetapan batas kawasan mencegah konflik lahan, perlindungan hutan menjaga ekosistem tetap berfungsi, sementara pencegahan kebakaran menjadi langkah penting untuk menghindari kerusakan lingkungan yang berdampak hingga ke permukiman.
Melalui pembekalan ini, Perhutani tidak hanya mempersiapkan mahasiswa menjalankan PKL, tetapi juga menanamkan cara pandang bahwa pengelolaan hutan merupakan tanggung jawab bersama. Semangat “Melangkah Bersama Merawat Hutan” diharapkan menjadi bekal bagi calon rimbawan untuk menghadirkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, adaptif, dan bermanfaat bagi generasi mendatang. (Byt/Mei)
Editor: Diono
Copyright © 2026
















Leave a Reply