Kembangkan Kebun Raya Baturraden, Perhutani Gencarkan Kolaborasi Strategis

BANYUMAS TIMUR (16/09/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur mendukung pengembangan Kebun Raya Baturraden melalui kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan kebijakan, konservasi, riset, pendidikan, serta pemanfaatan berkelanjutan. Dukungan tersebut disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD) Forum Optimalisasi Pengembangan Kebun Raya dengan tema “Kolaborasi Strategis dalam Pengembangan Kebun Raya Baturraden: Integrasi Kebijakan, Konservasi, Riset, dan Pemanfaatan Keberlanjutan” yang berlangsung pada Selasa (15/09) di Kebun Raya Baturraden Kabupaten Banyumas.

Dalam kegiatan tersebut, Perhutani diwakili Wakil Kepala Divisi Regional Jawa Tengah, A. Fajar Agung Susetyo. Kehadiran Perhutani menjadi bagian dari upaya membuka ruang sinergi dalam pengelolaan kawasan dan pengembangan riset biodiversitas. Forum juga mempertemukan unsur pemerintah daerah, lembaga riset, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas penguatan fungsi Kebun Raya Baturraden.

“Perhutani mendukung upaya pengembangan Kebun Raya Baturraden melalui kerja sama yang saling memberikan manfaat. Perhutani siap menjadi mitra dalam pengembangan riset, khususnya yang berkaitan dengan biodiversitas, konservasi, serta pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan,” katanya.

Administratur KPH Banyumas Timur, Andrie Syailendra, turut menyampaikan bahwa pengembangan Kebun Raya Baturraden membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena fungsi kawasan tidak hanya berkaitan dengan konservasi tumbuhan. Kebun raya juga memiliki potensi besar sebagai ruang penelitian, pendidikan lingkungan, wisata edukasi, serta pengembangan kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kolaborasi perlu dibangun dengan memperhatikan fungsi utama kawasan. Pengembangan pemanfaatan tidak boleh mengurangi nilai konservasi, tetapi justru harus memberikan dukungan terhadap upaya perlindungan dan pengembangan koleksi tumbuhan,” ujarnya.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Arief Irwanto menyampaikan bahwa Kebun Raya Baturraden merupakan salah satu kebun raya di Jawa Tengah yang dikelola pemerintah provinsi. Optimalisasi fungsi kebun raya diperlukan untuk memperkuat sinergi pengelolaan aset sekaligus mendukung agenda konservasi.

“Kebun raya memiliki fungsi yang kompleks. Tidak hanya konservasi, tetapi juga penelitian, pendidikan, wisata, dan tanggung jawab sosial lingkungan. Karena itu, kami membutuhkan masukan dan saran dari berbagai pihak agar perlindungan dan pengelolaannya dapat dilakukan secara optimal,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bapperida Kabupaten Banyumas, Didik Nur Hasan, menekankan pentingnya tata kelola kemitraan yang memberikan manfaat tanpa mengabaikan aspek legalitas dan keberlanjutan. Menurutnya, setiap kegiatan eksplorasi, pengayaan koleksi, maupun penerimaan material tumbuhan harus memiliki sumber yang jelas dan legal.

Ia juga mengingatkan bahwa kebun raya tidak cukup hanya berhenti pada fungsi preservasi. Koleksi yang dimiliki perlu dikembangkan untuk mendukung penelitian dan pemanfaatan dengan tetap mengikuti kaidah perkebunrayaan.

“Kebun raya tidak boleh berhenti pada pelestarian. Konservasi harus dapat dikembangkan sampai pada aspek pemanfaatan. Namun, semua kerja sama riset dan pemanfaatan tetap harus memiliki rambu-rambu yang jelas,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kualitas koleksi merupakan inti dari pengelolaan kebun raya. Karena itu, data perolehan harus lengkap dan akurat, tersimpan dalam sistem yang baik, serta didukung pengamanan dan pemeliharaan koleksi agar terhindar dari kerusakan, hama, penyakit, spesies invasif, maupun tingkat kematian yang tinggi.

Pandangan tersebut diperkuat oleh perwakilan Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, Surya, yang menyampaikan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan bagian dari kewajiban perusahaan. Program lingkungan menurutnya perlu diarahkan pada pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan, bukan sekadar pemberian bantuan.

“Konservasi bukan hanya menanam pohon. Konservasi adalah proses panjang untuk menjaga apa yang ada hari ini agar tetap memberikan manfaat bagi masa depan dan generasi penerus,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kerja sama dengan Kebun Raya Baturraden dapat mencakup eksplorasi, konservasi, pengembangan, hingga pemanfaatan. Salah satu potensi yang dibahas adalah konservasi kantung semar, pengembangan fasilitas pembibitan, serta pengembangan potensi ekonomi yang tetap berlandaskan prinsip keberlanjutan.

Bagi Perhutani, forum tersebut menjadi ruang untuk menyatukan perspektif bahwa konservasi dan pemanfaatan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Dengan tata kelola yang tepat, kawasan konservasi dapat menjadi ruang tumbuh bagi riset, pendidikan, inovasi, dan pemberdayaan tanpa kehilangan fungsi utamanya.

Melalui keterlibatan dalam forum tersebut, Perhutani KPH Banyumas Timur membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan riset biodiversitas dan konservasi. Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu menjadikan Kebun Raya Baturraden tidak hanya sebagai tempat menyimpan koleksi tumbuhan, tetapi juga sebagai ruang pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat ekologis, sosial, edukatif, dan ekonomi secara berkelanjutan. (Byt/Mei)

Editor: Febby

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *