Perhutani Kaji Budi Daya Durian UHDP untuk Optimalkan Multi Usaha Kehutanan

BANYUMAS BARAT, (07/10/2026) | Perum Perhutani mengambil langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi Multi Usaha Kehutanan (MUK) dengan menggelar studi banding mengenai metode budi daya durian dengan jarak tanam rapat atau Ultra High Density Planting (UHDP). Kegiatan tersebut dirancang untuk mendalami teknik intensifikasi lahan guna meningkatkan produktivitas serta nilai ekonomi hasil hutan nonkayu secara berkelanjutan.

Kegiatan studi banding tersebut dihadiri oleh Kepala Departemen Multi Usaha Kehutanan (MUK) Perum Perhutani, Arif Fitri Saputra, beserta jajaran tim teknis. Turut mendampingi kegiatan lapangan tersebut Administratur KPH Banyumas Barat, Herry Merkussiyanto Putro, Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Majenang, Aswin, serta Kepala Sub Seksi (KSS) Perencanaan dan Pengembangan Bisnis, Winasis Prasetyotomo. Rombongan Perhutani disambut oleh Wahyanto, petani durian sekaligus praktisi lokal dari Desa Rejodadi (Cilempuyang/Leber), Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Cilacap.

Metode Ultra High Density Planting (UHDP) merupakan teknik pengaturan jarak tanam yang lebih rapat dibandingkan metode konvensional, umumnya menggunakan pola efektif seperti 5 x 6 meter untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang dan cahaya matahari. Penerapan metode ini membutuhkan manajemen hara yang presisi, pemangkasan tajuk secara teratur, serta sistem pengairan yang disiplin agar pohon tetap pendek, tetapi mampu menghasilkan buah dalam jumlah banyak.

Bagi Perhutani, penerapan teknologi agroforestri tersebut membuka peluang besar untuk memanfaatkan ruang vertikal dan horizontal di bawah tegakan hutan atau pada lahan kelolaan secara maksimal.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Departemen MUK Perhutani, Arif Fitri Saputra, menyampaikan visi institusi terhadap pengembangan komoditas buah-buahan bernilai tinggi di kawasan hutan.

“Perhutani terus berkomitmen melakukan transformasi bisnis melalui pilar Multi Usaha Kehutanan. Studi banding ke kebun komoditas durian dengan sistem Ultra High Density Planting (UHDP) ini membuka cakrawala baru bagi kami. Dengan metode penanaman jarak rapat yang diterapkan secara terukur, kita tidak hanya berbicara tentang efisiensi penggunaan lahan hutan, tetapi juga percepatan masa panen dan standardisasi kualitas buah. Kami melihat potensi besar untuk mereplikasi sistem agroforestri ini di wilayah kerja Perhutani guna meningkatkan pendapatan perusahaan sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar hutan.”

Senada dengan hal tersebut, Administratur KPH Banyumas Barat, Herry Merkussiyanto Putro, menekankan pentingnya sinergi dan aspek teknis operasional di tingkat tapak.

“Kami di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Barat menyambut baik peluang pengembangan durian UHDP ini. Pendampingan dari praktisi yang sudah terbukti berhasil seperti Pak Wahyanto sangat berharga bagi jajaran BKPH Majenang dan tim bisnis kami dalam merumuskan perencanaan yang matang. Kami ingin memastikan bahwa setiap lahan yang dikerjasamakan memberikan dampak ekonomi yang nyata tanpa mengabaikan fungsi ekologis utama hutan.”

Sebagai praktisi yang telah menerapkan budi daya durian di Kecamatan Cimanggu, Wahyanto menyambut baik ketertarikan Perhutani terhadap metode yang dikembangkannya. Ia membagikan pengalaman mengenai kunci keberhasilan sistem jarak tanam rapat tersebut.

“Kunci utama dari sistem budi daya jarak tanam rapat (UHDP) ini ada pada kedisiplinan perawatan, mulai dari pemangkasan dahan agar matahari masuk secara optimal, pengaturan nutrisi pupuk, hingga manajemen air yang tepat. Melalui metode ini, jumlah populasi pohon per hektare meningkat secara signifikan sehingga produktivitas buah per satuan luas juga jauh lebih tinggi dibandingkan kebun konvensional. Saya merasa sangat terhormat dan bangga atas kunjungan dari jajaran direksi dan manajemen Perhutani. Harapan saya, ilmu dan pengalaman yang kami bagikan di Desa Leber/Cimanggu ini dapat bermanfaat secara luas serta menjadi pemantik kerja sama agroforestri yang saling menguntungkan antara petani lokal dan Perhutani.”

Melalui sinergi pengetahuan antara praktisi lokal dan keunggulan manajemen Perhutani, pengembangan durian dengan sistem UHDP diharapkan mampu menjadi salah satu komoditas unggulan baru yang memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa hutan. (Byb/Twn).

Editor: Baim

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *