Perhutani KPH Kendal Tingkatkan Pemahaman Pengelolaan Limbah B3 Melalui Sosialisasi ERSA”

KENDAL, (10/07/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kendal menggelar sosialisasi Environmental and Social Risk Assessment (ERSA) serta pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai upaya memitigasi risiko lingkungan dan kesehatan akibat penggunaan bahan kimia. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman serta kepatuhan terhadap prosedur pengelolaan limbah B3, mulai dari penyimpanan, pemilahan berdasarkan karakteristik limbah, hingga penanganan yang sesuai dengan prinsip ramah lingkungan. Kegiatan berlangsung di Gedung Pertemuan Perhutani KPH Kendal pada Jumat (10/07).

Sosialisasi dihadiri oleh Administratur/Kepala KPH Kendal, Kepala Subseksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L), serta jajaran mandor Perhutani KPH Kendal.

Administratur/Kepala KPH Kendal, Muhadi, menyampaikan bahwa pengelolaan fasilitas yang berkaitan dengan limbah B3 harus dilaksanakan secara aman, tertib, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurutnya, pengelolaan limbah B3 yang baik merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan berkelanjutan.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memastikan seluruh petugas memahami dan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan limbah B3 secara benar. Hal tersebut merupakan bentuk komitmen Perhutani dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab sekaligus membangun budaya kerja yang semakin peduli terhadap aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan,” ujar Muhadi.

Sementara itu, Kepala Subseksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L), Edi Suwito, selaku narasumber menjelaskan materi mengenai tata cara pengelolaan limbah B3, mulai dari identifikasi, penyimpanan, pengangkutan, hingga penanganan akhir serta sistem pelaporannya. Selain itu, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai potensi risiko yang ditimbulkan oleh limbah B3 beserta langkah-langkah mitigasi yang dapat diterapkan dalam kegiatan operasional di lapangan.

Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta menyampaikan berbagai kendala teknis yang dihadapi di lapangan, termasuk tata cara penanganan kemasan bekas limbah B3 agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan tetap memenuhi ketentuan yang berlaku. Diskusi tersebut menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap aspek teknis pengelolaan limbah B3 yang aman dan sesuai prosedur.

Salah seorang peserta, Mandor Lingkungan Arbi, mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pengelolaan limbah B3 sehingga dapat diterapkan dalam kegiatan operasional sehari-hari.

“Melalui kegiatan ini kami memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan limbah B3 sesuai SOP. Pengetahuan tersebut akan kami terapkan di lapangan sehingga kegiatan operasional dapat berjalan lebih aman, tertib, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” ungkap Arbi.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) KPH Kendal, Gatot Mulyadi, berharap kegiatan sosialisasi ERSA dan pengelolaan limbah B3 dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan pemahaman masyarakat dan mitra Perhutani terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan karena sangat bermanfaat dalam menambah wawasan mengenai pengelolaan limbah B3 yang benar dan aman. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dan mitra Perhutani dapat ikut berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan, mendukung terciptanya kawasan hutan yang sehat, serta mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan,” ujar Gatot Mulyadi.

Perhutani KPH Kendal berharap kegiatan sosialisasi ini dapat meningkatkan kompetensi seluruh petugas dalam mengelola limbah B3 secara aman dan bertanggung jawab. Dengan penerapan prinsip-prinsip ERSA dan pengelolaan limbah B3 yang baik, diharapkan tercipta budaya kerja yang semakin peduli terhadap aspek keselamatan, kesehatan kerja, serta kelestarian lingkungan sebagai bagian dari pengelolaan hutan yang profesional dan berkelanjutan. (Kdl/Tmy)

Editor: Diono

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *