Perhutani KPH Kedu Utara dan LMDH Kembangkan Wisata Perantunan untuk Dorong Ekonomi Masyarakat

KEDU UTARA, SEMARANG (29/05/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Sentoso Desa Bandungan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, mengembangkan wisata berbasis kemitraan di kawasan wisata alam Perantunan, Kamis (28/05). Pengelolaan kawasan wisata yang berada satu areal dengan basecamp pendakian Gunung Ungaran via Perantunan tersebut dinilai mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan baru bagi warga di lereng Gunung Ungaran.

Kawasan yang berada di wilayah hutan Perhutani tersebut kini tidak hanya menjadi tujuan wisata alam dan jalur favorit pendakian Gunung Ungaran, tetapi juga berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa sekitar. Berbagai usaha tumbuh seiring meningkatnya jumlah wisatawan dan pendaki yang datang ke Perantunan.

Mulai dari jasa persewaan perlengkapan outdoor, ojek, warung makan, kios kebutuhan pendaki, hingga toko oleh-oleh lokal kini menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat. Skema kemitraan yang dijalankan juga memberikan ruang keterlibatan aktif warga dalam pengelolaan wisata secara langsung.

Administratur KPH Kedu Utara, Andrie Syailendra, menyampaikan bahwa pengembangan wisata alam berbasis kemitraan merupakan bentuk sinergi pengelolaan hutan yang tidak hanya berorientasi pada kelestarian kawasan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Menurutnya, keberadaan wisata alam dan basecamp Perantunan menjadi contoh bagaimana kawasan hutan dapat dikelola secara produktif bersama masyarakat melalui pola kemitraan yang sehat dan berkelanjutan.

“Perhutani mendukung pengelolaan wisata alam berbasis kemitraan bersama LMDH karena dampaknya sangat dirasakan masyarakat. Kehadiran wisata dan basecamp ini mampu membuka banyak peluang usaha baru bagi warga sekitar, mulai dari jasa transportasi, persewaan alat outdoor, warung, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal,” ujar Andrie Syailendra.

Ia menambahkan, pengembangan wisata tetap harus mengedepankan aspek keamanan, kenyamanan pengunjung, serta kelestarian kawasan hutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Sementara itu, pengelola wisata dan basecamp Perantunan, Dwi, mengatakan bahwa tren kunjungan wisatawan dan pendaki mengalami peningkatan, terutama pada akhir pekan maupun musim libur panjang.

Menurutnya, keberadaan basecamp pendakian Gunung Ungaran via Perantunan turut menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan jalur pendakian yang nyaman dengan suasana alam yang masih asri.

“Kami bersyukur pengelolaan wisata dan basecamp ini membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Banyak warga yang sebelumnya belum memiliki usaha kini bisa membuka warung, jasa ojek, maupun persewaan perlengkapan pendakian. Kami juga terus berupaya menjaga pelayanan dan kebersihan kawasan agar pengunjung merasa nyaman,” kata Dwi.

Selain menjadi destinasi wisata alam dan pintu pendakian Gunung Ungaran, kawasan Perantunan juga dikenal memiliki panorama alam pegunungan, udara sejuk, serta area camping yang banyak diminati wisatawan muda maupun komunitas pecinta alam.

Melalui kolaborasi antara Perhutani dan LMDH Wono Sentoso, pengelolaan kawasan hutan diharapkan terus mampu memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang. Ke depan, pengembangan fasilitas pendukung wisata dan pemberdayaan UMKM masyarakat sekitar juga akan terus ditingkatkan guna mendukung pertumbuhan wisata berbasis alam yang berkelanjutan di lereng Gunung Ungaran. (Kdu/Nurul)

Editor: Diono

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *