Harmonisasi Alam dan Tradisi, KPH Cepu Rawat Kearifan Lokal Jelang Produksi Kayu

CEPU (12/06/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Nglebur menggelar tradisi selamatan sebelum memulai kegiatan produksi tebangan B di petak 5024 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Nglebur, Kamis (11/06).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BKPH Nglebur, Karyono; Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Nglebur, Suwela; mandor tebang; masyarakat desa hutan; serta perwakilan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Tani Makmur, Desa Nglebur, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora.

Mewakili Administratur KPH Cepu, Kepala BKPH Nglebur, Karyono, mengatakan bahwa tradisi bancaan selamatan diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembagian nasi tumpeng dan ingkung ayam yang menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, serta harapan agar kegiatan tebangan dapat berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi semua pihak.

Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai adat dan budaya Jawa tersebut tetap dijaga oleh masyarakat sekitar hutan sebagai wujud harmonisasi antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lebih lanjut, Karyono menjelaskan bahwa selain sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi, acara selamatan ini juga berfungsi sebagai sarana sosialisasi terkait kegiatan tebangan kayu yang dilakukan Perhutani. Menurutnya, setiap kegiatan produksi kayu selalu didasarkan pada perencanaan yang matang, mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan, serta berorientasi pada keseimbangan ekologi dan ekonomi.

“Perhutani memastikan bahwa produksi kayu yang dilakukan tidak hanya mematuhi standar pengelolaan hutan lestari, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar dan lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Nglebur, Suwela, menambahkan bahwa melalui kegiatan seperti ini diharapkan nilai-nilai budaya lokal dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian dari komunikasi sosial dalam setiap aktivitas kehutanan. Dengan demikian, pengelolaan hutan tidak hanya berdampak secara ekonomis, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang harmonis.

Sementara itu, Ketua LMDH Wana Tani Makmur, Ahmad Dian Purnama, mengatakan bahwa kegiatan selamatan memiliki makna yang lebih dari sekadar seremonial.

“Ini bukan hanya ritual seremonial, tetapi juga perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil yang diberikan dari hutan. Selamatan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hutan harus dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” ujarnya. (Cpu/Pai).

Editor: Hening

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *