PEKALONGAN TIMUR (29/06/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Timur melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Randudongkal melaksanakan kegiatan jemput bola pengangkutan (langsir) getah pinus dari Petak 77N menuju Tempat Penampungan Getah (TPG) Kalilingseng, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Bongas. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan efisiensi pengangkutan hasil sadapan sekaligus mendukung kelancaran distribusi getah pinus dari lokasi penyadapan menuju TPG.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Randudongkal, Eko Pranoto, yang mewakili Administratur KPH Pekalongan Timur. Langkah ini merupakan bentuk komitmen Perhutani untuk memastikan seluruh hasil produksi getah pinus dapat diangkut dengan baik, aman, dan tepat waktu dari lokasi penyadapan hingga ke tempat penampungan resmi.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan langsir dilakukan dengan sistem jemput bola langsung ke lokasi penyadapan sehingga memudahkan para penyadap dalam mengumpulkan hasil sadapan tanpa harus membawa beban berat menuju TPG. Cara ini juga meningkatkan efektivitas kerja di lapangan sekaligus menjaga kualitas getah hingga proses penimbangan.
Di lokasi kegiatan, Eko Pranoto melakukan pengecekan langsung terhadap hasil sadapan milik para penyadap, di antaranya Munawar dan Runtung, yang secara konsisten melakukan penyadapan di Petak 77N. Selain memastikan hasil getah terkumpul dengan baik, ia juga memberikan arahan mengenai teknik penanganan getah agar kualitasnya tetap terjaga selama proses pengangkutan.
Mewakili Administratur KPH Pekalongan Timur, Kepala BKPH Randudongkal, Eko Pranoto, menyampaikan bahwa sistem jemput bola dalam kegiatan langsir merupakan salah satu inovasi lapangan yang bertujuan mendukung peningkatan produktivitas sekaligus meringankan beban kerja para penyadap. Menurutnya, efisiensi rantai produksi menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas dan kuantitas hasil getah pinus.
“Kegiatan langsir dengan sistem jemput bola ini kami lakukan untuk memastikan hasil sadapan dapat segera diangkut ke TPG tanpa menunggu terlalu lama di lokasi. Selain menjaga kualitas getah, langkah ini juga membantu meringankan pekerjaan penyadap sehingga proses produksi dapat berjalan lebih efektif dan efisien,” ujar Eko Pranoto.
Ia menambahkan bahwa Perhutani terus berupaya menyempurnakan sistem pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK), khususnya getah pinus, dengan mengedepankan prinsip efisiensi, ketepatan waktu, serta peningkatan kesejahteraan mitra penyadap.
Sementara itu, para penyadap, termasuk Munawar dan Runtung, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Mereka menilai sistem jemput bola sangat membantu proses pengangkutan hasil sadapan, terutama dari lokasi yang cukup jauh menuju TPG.
“Dengan adanya langsir langsung dari Perhutani, pekerjaan kami menjadi lebih ringan. Getah juga lebih cepat terangkut sehingga tidak menumpuk di lapangan. Ini sangat membantu kami sebagai penyadap,” ungkap salah seorang penyadap.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan koordinasi antara petugas Perhutani dan para penyadap di lapangan. Melalui komunikasi yang intensif, berbagai kendala operasional dapat segera diidentifikasi dan dicarikan solusi secara cepat dan tepat.
Perhutani KPH Pekalongan Timur terus berkomitmen meningkatkan produktivitas getah pinus melalui berbagai inovasi operasional di lapangan, termasuk penerapan sistem jemput bola dalam pengangkutan hasil sadapan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi kerja, menjaga kualitas produksi, serta memperkuat kemitraan dengan para penyadap sebagai mitra strategis Perhutani.
Dengan sinergi yang kuat antara petugas lapangan dan masyarakat penyadap, Perhutani optimistis target produksi getah pinus dapat tercapai secara optimal sekaligus mendukung pengelolaan hutan yang produktif, lestari, dan berkelanjutan di wilayah KPH Pekalongan Timur. (Pkt/Ran)
Editor: Ulfa
Copyright © 2026
















Leave a Reply