Perhutani Tekankan Pentingnya Penanganan Getah Pinus di RPH Jambusari

BANYUMAS TIMUR (20/10/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur memperhatikan penanganan getah pinus sejak proses penyadapan hingga pengangkutan, Senin (19/10). Salah satu hal yang perlu dicermati adalah waktu tunggu getah setelah terkumpul di wadah penampung. Jika penanganannya tidak diperhatikan, kondisi lingkungan selama penyimpanan dapat memengaruhi keadaan getah dan meningkatkan risiko tercampurnya material lain.

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah perubahan konsistensi getah. Paparan udara dan suhu lingkungan dapat membuat getah semakin kental atau membentuk bagian yang mengeras. Perubahan tersebut tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu tunggu, tetapi juga kondisi getah dan lingkungan tempat penyimpanan. Karena itu, waktu bukan satu-satunya faktor untuk menilai kondisi hasil sadapan.

Risiko berikutnya adalah kontaminasi. Wadah yang terbuka berpotensi kemasukan air hujan, daun, serpihan kulit pohon, tanah, atau material lain di sekitarnya. Kondisi wadah dan kebersihannya perlu diperhatikan selama getah menunggu pengangkutan. Penanganan yang baik membantu mengurangi kemungkinan bahan asing tercampur dengan hasil sadapan.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatilawang, Pratikno, menjelaskan bahwa pengelolaan getah perlu memperhatikan kondisi hasil dan tata penanganannya.

“Getah yang sudah terkumpul perlu dijaga kondisinya sampai proses pengangkutan. Pemantauan wadah, kebersihan tempat penampungan, dan pengaturan jadwal menjadi bagian penting agar penanganan hasil berjalan tertib,” ujarnya.

Perhatian terhadap kegiatan penyadapan juga dilakukan melalui pengecekan sadapan bersama di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jambusari. Dalam kegiatan tersebut, Yandi mulai melakukan peludangan. Pemantauan ini menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan kegiatan sadapan sekaligus berkomunikasi langsung dengan penyadap mengenai pekerjaan yang sedang dilakukan.

Yandi menyampaikan bahwa peludangan menjadi bagian dari kegiatan yang perlu dipersiapkan dengan baik agar proses penyadapan dapat berjalan teratur. “Saya mulai melakukan peludangan agar kegiatan sadap bisa berjalan sesuai rencana. Hasil yang terkumpul juga perlu dijaga dan ditangani dengan baik sebelum dibawa untuk disetorkan,” ungkapnya.

Kepala RPH Jambusari, Mahfuri, menjelaskan bahwa getah pinus yang keluar dari bidang sadap mengalir melalui talang menuju wadah penampung. Dalam kondisi tertentu, getah tidak langsung diangkut karena perlu menyesuaikan jadwal pengumpulan, ketersediaan sarana, kapasitas angkut, dan akses menuju lokasi. Namun, waktu tunggu tetap perlu dikelola agar hasil sadapan terlindungi hingga proses pengangkutan dilakukan.

“Pengecekan lapangan dan komunikasi dengan penyadap menjadi bagian penting dalam pengelolaan hasil hutan,” imbuhnya. Selain memperhatikan kegiatan di bidang sadap, pemantauan dapat membantu petugas mengetahui kondisi penampungan dan kebutuhan pengangkutan. Dengan begitu, potensi kendala dapat dikenali lebih awal dan penanganan dapat disesuaikan dengan keadaan setempat.

Melalui semangat “Cerita Penjaga Hutan”, kegiatan penyadapan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya getah yang dikumpulkan. Perhatian terhadap waktu tunggu, kondisi wadah, kebersihan, dan pengangkutan turut menentukan keteraturan penanganan hasil. Getah yang sudah terkumpul perlu dikelola secara cermat agar tetap terlindungi hingga tahap penerimaan, sementara kegiatan penyadapan berlangsung sesuai ketentuan dan kondisi lapangan. (Byt/Mei)

Editor: Farah

Copyright ©️ 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *