BANYUMAS TIMUR (17/07/2026) | Di tengah luasnya kawasan hutan, seutas tali rafia mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi petugas Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur, tali tersebut menjadi penanda penting dalam kegiatan sensus pohon. Penanda ini digunakan untuk memastikan setiap pohon yang telah didata tidak dihitung dua kali sekaligus memudahkan identifikasi saat pengukuran di Petak 74B Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jambusari, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatilawang, Jumat (17/07). Langkah sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya Perhutani menghadirkan data kehutanan yang akurat sebagai dasar pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
Sensus pohon merupakan kegiatan pendataan seluruh pohon pada suatu areal tertentu. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah pohon, jenis, diameter batang, tinggi, kondisi kesehatan, hingga posisi pohon. Informasi tersebut menjadi dasar penyusunan rencana pengelolaan hutan, mulai dari pemeliharaan, perlindungan, penjarangan, hingga perencanaan produksi hasil hutan. Inventarisasi secara sensus umumnya diterapkan pada areal yang relatif terbatas atau pada kebutuhan tertentu yang memerlukan tingkat ketelitian tinggi. Sementara pada kawasan yang sangat luas, inventarisasi lebih sering menggunakan metode sampling agar lebih efisien.
Dalam pelaksanaan sensus, petugas lapangan memasang tali rafia pada batang pohon yang telah diperiksa. Penanda sederhana ini membantu membedakan pohon yang sudah diukur dengan yang belum, sekaligus mempercepat pekerjaan ketika beberapa petugas bekerja secara bersamaan dalam satu petak. Penggunaan tali rafia sebagai penanda lapangan juga lazim diterapkan dalam kegiatan inventarisasi kehutanan di Indonesia.
Administratur/Kepala KPH Banyumas Timur melalui Kepala BKPH Jatilawang Pratikno mengatakan bahwa sensus pohon bukan sekadar kegiatan menghitung jumlah batang pohon, melainkan langkah penting dalam mendukung pengelolaan hutan yang berbasis data.
“Data yang akurat menjadi dasar setiap keputusan pengelolaan hutan. Dari data tersebut kami dapat menentukan langkah pemeliharaan, menjaga kelestarian tegakan, sekaligus merencanakan produksi hasil hutan secara lebih tepat,” ujarnya.
Menurut Pratikno, hasil sensus membantu Perhutani mengetahui kondisi riil tegakan di lapangan. Apabila ditemukan pohon yang mengalami gangguan, tumbuh tidak normal, atau terdapat ruang tanam kosong, tindakan pemeliharaan dapat segera direncanakan.
Hubungan sensus pohon dengan produksi hasil hutan juga sangat erat. Data jumlah pohon dan ukuran diameter menjadi dasar untuk memperkirakan potensi volume kayu pada masa mendatang. Pada hutan pinus, inventarisasi membantu memetakan kondisi tegakan yang berpengaruh terhadap produktivitas hasil hutan bukan kayu, seperti getah pinus. Dengan data yang lengkap, perencanaan produksi dapat dilakukan secara lebih tepat tanpa mengabaikan prinsip kelestarian. Pengelolaan berbasis data juga membantu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan keberlanjutan fungsi ekologis hutan.
Sementara itu, salah seorang penyadap getah pinus yang juga merupakan mitra Perhutani, Iwan, mengaku bahwa kegiatan sensus pohon memang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas penyadapan yang dilakukan setiap hari. Namun, menurutnya, pendataan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi tegakan tetap terpantau.
“Bagi kami, yang terpenting pohon tetap sehat dan terawat. Kalau pendataan ini membantu Perhutani mengetahui kondisi hutan secara lebih akurat, tentu kami mendukung. Hutan yang terjaga juga berarti mata pencaharian kami dapat terus berlanjut,” katanya.
Melalui kegiatan sensus pohon, Perhutani KPH Banyumas Timur terus memperkuat pengelolaan hutan berbasis data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Setiap informasi yang diperoleh menjadi landasan dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus memastikan hasil hutan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun mendatang. (Byt/Mei)
Editor: Hening
Copyright © 2026
















Leave a Reply