Generasi Z Mulai Tekuni Profesi Penyadap Getah Pinus, Perhutani Banyumas Timur Dorong Regenerasi Penyadap

BANYUMAS TIMUR (30/07/2026) | Regenerasi tenaga penyadap menjadi salah satu tantangan yang mulai mendapat perhatian dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu. Di tengah semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap pekerjaan di sektor kehutanan, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur justru menemukan harapan baru melalui hadirnya penyadap getah pinus dari kalangan Generasi Z di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Lebaksiu, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Barat.

Harapan tersebut mengemuka saat Perhutani melaksanakan monitoring peludangan getah di wilayah tersebut pada Kamis (30/07). Selain memastikan hasil sadapan tersimpan dengan baik sebelum diangkut menuju Tempat Penimbunan Getah (TPG), kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung semangat para penyadap muda yang mulai terlibat dalam pekerjaan yang selama ini identik dengan generasi yang lebih senior.

Bagi sebagian orang, pekerjaan menyadap getah mungkin dianggap sebagai profesi yang berat dan kurang diminati. Padahal, pekerjaan ini membutuhkan ketelitian, kedisiplinan, serta pemahaman terhadap kondisi pohon agar produksi tetap optimal tanpa merusak kelestarian tegakan.

Kehadiran penyadap dari kalangan Gen Z menjadi sinyal bahwa pekerjaan di sektor kehutanan masih memiliki ruang untuk terus berkembang. Tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, profesi ini juga berperan menjaga keberlanjutan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu yang selama ini menjadi andalan Perhutani.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala BKPH Gunung Slamet Barat, Bambang Ruswanto, mengatakan bahwa regenerasi tenaga penyadap menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan produksi getah pinus. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan getah tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang disadap, tetapi juga oleh tersedianya sumber daya manusia yang mampu menjalankan pekerjaan tersebut secara berkelanjutan.

“Anak-anak muda yang mulai tertarik belajar menyadap merupakan kabar baik. Perhutani berharap mereka tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga menjadi generasi yang memahami pentingnya menjaga hutan sekaligus menghasilkan getah yang berkualitas,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa monitoring peludangan tidak semata-mata mengecek volume hasil sadapan. Kegiatan tersebut juga memastikan getah tersimpan dengan baik agar kualitasnya tetap terjaga sebelum memasuki proses pengangkutan.

Sementara itu, salah satu Tenaga Penyadap Gen Z, Imun, melihat semangat berbeda dari penyadap muda yang mulai bergabung di lapangan. Menurutnya, mereka cepat mempelajari teknik kerja, terbiasa menggunakan teknologi untuk berkomunikasi, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap proses produksi.

“Yang paling penting bukan soal usia, tetapi kemauan belajar. Setiap dari kita manusia mau menerima arahan dan memahami bahwa kualitas getah dimulai dari cara menyadap hingga cara menyimpan hasilnya di peludangan,” katanya.

Secara umum, peludangan merupakan tahapan penting dalam rantai produksi getah pinus. Pada tahap ini, hasil sadapan dikumpulkan, ditata, dan dijaga kebersihannya sebelum dikirim ke TPG. Penanganan yang baik membantu menjaga mutu bahan baku sehingga dapat memberikan nilai tambah pada proses pengolahan berikutnya.

Melalui monitoring peludangan sekaligus pembinaan penyadap muda di RPH Lebaksiu, Perhutani menunjukkan bahwa keberlanjutan hasil hutan tidak hanya ditentukan oleh pohon yang tetap tumbuh, tetapi juga oleh hadirnya generasi baru yang bersedia melanjutkan pekerjaan menjaga dan memanfaatkan hutan secara bertanggung jawab. Regenerasi inilah yang menjadi investasi jangka panjang agar produksi getah tetap terjaga dan manfaat hutan dapat terus dirasakan oleh masyarakat pada masa mendatang. (Byt/Mei)

Editor: Diono

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *