Perhutani BKPH Kebasen Menjaga Getah, Merawat Pohon Lewat Ukuran Quarre

Perhutani BKPH Kebasen Menjaga Getah, Merawat Pohon Lewat Ukuran Quarre

BANYUMAS TIMUR, (18/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus mendorong penyadapan getah pinus yang memperhatikan produktivitas sekaligus kondisi pohon pada Selasa (18/08). Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah ukuran quarre atau bidang luka sadap pada batang pinus. Ukuran tersebut tidak dibuat sembarangan karena berkaitan langsung dengan kemampuan pohon untuk tetap tumbuh dan menghasilkan getah dalam jangka panjang.

Hal itu menjadi bagian dari perhatian Perhutani dalam kegiatan penerimaan getah di Tempat Pengumpulan Getah (TPG) Kalirajut. Di lokasi tersebut, getah hasil sadapan dari lapangan disetor, diperiksa, kemudian ditimbang sebelum masuk ke proses berikutnya.

Administratur KPH Banyumas Timur, Andrie Syailendra, mengatakan bahwa penyadapan harus memperhitungkan kemampuan pohon. Luka yang dibuat terlalu besar tidak otomatis menghasilkan getah lebih banyak. Justru, bidang sadap yang tidak terkendali dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap batang.

“Ukuran quarre memiliki alasan teknis. Penyadapan harus menjaga keseimbangan antara hasil getah dan kondisi pohon. Jangan sampai mengejar produksi dalam waktu singkat, tetapi mengabaikan keberlanjutan pohon. Karena itu, penyadap perlu mengikuti ukuran dan teknik yang telah ditetapkan,” ujarnya.

Pada proses penyadapan, quarre merupakan bagian batang yang dibuka secara bertahap untuk memicu keluarnya getah. Luka tersebut perlu dibuat dengan ukuran dan pola yang sesuai. Penyadap tidak dianjurkan membuat luka terlalu lebar, terlalu dalam, atau berpindah secara tidak teratur.

Alasannya sederhana. Batang merupakan bagian penting bagi kehidupan pohon. Jika jaringan batang terlalu banyak mengalami kerusakan, kemampuan pohon untuk mempertahankan pertumbuhan dapat terganggu. Luka yang terlalu luas juga dapat meningkatkan risiko kerusakan pada bagian batang yang seharusnya tetap terlindungi.

Sebaliknya, bidang sadap yang dibuat secara terukur memberikan ruang bagi pohon untuk tetap tumbuh sekaligus menghasilkan getah. Penyadapan yang baik bukan tentang seberapa besar luka yang dibuat, tetapi seberapa tepat luka tersebut ditempatkan dan dikelola.

Kondisi itu menjadi salah satu hal yang perlu dipahami penyadap di lapangan. Hasil yang masuk ke TPG Kalirajut memang diukur dalam bentuk berat getah. Namun, angka timbangan bukan satu-satunya indikator keberhasilan penyadapan.

Seorang penyadap dari wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebasen, Mingan, mengatakan bahwa ukuran bidang sadap menjadi perhatian dalam pekerjaan sehari-hari. Menurutnya, penyadap harus memperhitungkan kondisi batang ketika melakukan penyadapan berikutnya.

“Kalau ukuran luka dibuat sembarangan, bidang sadap bisa cepat melebar dan kondisi batang juga harus lebih diperhatikan. Kami tidak hanya mengejar getah yang masuk ke wadah, tetapi juga harus menjaga agar pohon tetap bisa disadap pada periode berikutnya,” katanya.

Di TPG Kalirajut, hasil kerja penyadap kemudian dikumpulkan dan ditimbang. Tahap tersebut menjadi titik pertemuan antara proses di lapangan dengan hasil produksi yang tercatat. Dari sini, penting untuk melihat bahwa setiap kilogram getah memiliki proses yang dimulai dari kondisi pohon dan ketepatan teknik penyadapan.

Bagi masyarakat awam, quarre mungkin terlihat seperti sekadar luka pada batang. Padahal, ukuran dan pola luka memiliki konsekuensi terhadap pohon. Semakin banyak bagian batang yang dibuka tanpa perhitungan, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung pohon.

Karena itu, penyadapan getah pinus membutuhkan keterampilan dan kedisiplinan. Pohon tidak hanya dipandang sebagai sumber produksi hari ini. Pohon juga harus dijaga agar tetap produktif untuk periode berikutnya.

Perhutani terus mendorong penyadapan yang berorientasi pada keberlanjutan. Produktivitas getah dan kesehatan pohon harus berjalan beriringan. Hasil yang baik bukan hanya getah yang banyak masuk ke TPG, tetapi juga pohon yang tetap terjaga.

Melalui pesan “Hutan Lestari Kita”, Perhutani mengajak melihat bahwa menjaga hutan dapat dimulai dari hal yang tampak kecil. Salah satunya adalah membuat luka sadap sesuai ukuran dan ketentuan. Karena di balik setiap angka pada timbangan TPG Kalirajut, ada pohon yang harus tetap tumbuh dan dirawat. (Byt/Mei)

Editor: Baim
Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *