BANYUMAS TIMUR (27/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus melakukan pengecekan hasil penyadapan getah pinus dari tingkat lapangan hingga tempat penerimaan pada Kamis (27/08). Ketepatan pencatatan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Data hasil sadapan perlu memiliki keterkaitan yang jelas antara kondisi di lapangan, getah yang diterima, dan pencatatan produksi.
Salah satu pengecekan dilakukan di lokasi sadapan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Serang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pemantauan kondisi sadapan sekaligus untuk melihat secara langsung proses produksi getah di tingkat tapak.
Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Timur, Bambang Sutanto, mengatakan bahwa pencatatan produksi tidak dapat dipisahkan dari kondisi nyata di lapangan. Oleh karena itu, pengecekan sadapan menjadi salah satu cara untuk memastikan data produksi memiliki dasar yang jelas.
“Angka produksi harus memiliki hubungan dengan kondisi lapangan. Perhutani perlu mengetahui bagaimana penyadapan dilakukan, berapa hasil yang dikumpulkan, kemudian mencocokkannya dengan penerimaan dan pencatatan. Ketelitian di setiap tahap penting agar data yang digunakan benar-benar menggambarkan hasil produksi,” ujarnya.
Secara sederhana, proses pencatatan produksi dimulai dari pohon. Penyadap melakukan kegiatan penyadapan dan mengumpulkan getah yang dihasilkan. Hasil tersebut kemudian dibawa untuk diterima dan ditimbang di Tempat Pengumpulan Getah (TPG).
Dalam proses tersebut, terdapat sejumlah data yang perlu saling terhubung. Kondisi sadapan memberikan gambaran potensi produksi, sedangkan hasil yang benar-benar dikumpulkan merupakan produksi aktual dari lapangan. Selanjutnya, hasil tersebut masuk ke proses penerimaan dan penimbangan.
Hasil penimbangan kemudian menjadi bagian dari pencatatan produksi. Data tersebut penting untuk mengetahui jumlah getah yang benar-benar diterima dalam suatu periode.
Pengecekan di lapangan menjadi penting karena angka produksi tidak dapat berdiri sendiri. Jika terjadi perubahan hasil, kondisi sadapan menjadi salah satu aspek yang perlu diperiksa. Perubahan jumlah pohon yang aktif disadap, kondisi bidang sadap, teknik penyadapan, maupun kondisi lingkungan dapat memengaruhi hasil produksi.
Penyadap, Carso, menjadi salah satu pekerja yang lokasinya diperiksa dalam kegiatan tersebut. Pengecekan di RPH Serang dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi sadapan dan proses penyadapan yang sedang berjalan.
“Pengecekan seperti ini membantu kami melihat kondisi sadapan secara langsung. Dari situ dapat diketahui apakah pekerjaan penyadapan berjalan sesuai ketentuan dan bagaimana kondisi hasilnya,” ujarnya.
Setelah getah dikumpulkan, hasil tersebut belum langsung menjadi angka produksi akhir. Getah masih harus melalui proses penerimaan dan penimbangan. Ketepatan alat ukur menjadi penting karena angka pada timbangan menjadi dasar pencatatan hasil yang diterima.
Dengan demikian, terdapat tiga bagian yang saling berkaitan, yaitu kondisi produksi di lapangan, hasil yang benar-benar dibawa dan diterima, serta data yang dicatat sebagai hasil produksi.
Jika ketiganya berjalan dengan baik, data produksi akan lebih mudah ditelusuri. Sebaliknya, apabila terdapat perbedaan yang tidak wajar, pengecekan dapat dilakukan untuk mengetahui pada tahapan mana perbedaan tersebut terjadi.
Bagi masyarakat, pencatatan produksi mungkin terlihat sebagai pekerjaan administratif. Padahal, data tersebut merupakan bagian penting dalam pengelolaan hasil hutan. Data produksi membantu Perhutani melihat perkembangan produksi sekaligus mengevaluasi kegiatan penyadapan.
Hal tersebut juga berkaitan dengan penyadap. Hasil yang mereka kumpulkan perlu diterima dan ditimbang secara tepat. Angka tersebut menjadi dasar dalam proses penerimaan hasil. Karena itu, ketepatan data bukan hanya menjadi kepentingan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan penghargaan terhadap hasil kerja penyadap.
Pengecekan sadapan menunjukkan bahwa pengawasan produksi tidak hanya dilakukan melalui pencatatan administratif. Perhutani turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi pohon, bidang sadap, dan aktivitas penyadapan.
Pendekatan tersebut membantu menghubungkan data dengan kondisi sebenarnya. Jika terjadi perubahan produksi, Perhutani dapat mengidentifikasi berbagai faktor yang mungkin memengaruhinya. Sebaliknya, apabila produksi meningkat, proses yang berjalan di lapangan dapat menjadi bahan evaluasi untuk mempertahankan kinerja tersebut.
Pada akhirnya, angka produksi yang baik bukan sekadar angka yang tercatat. Angka tersebut harus dapat ditelusuri asalnya dan dijelaskan melalui proses yang berlangsung hingga masuk dalam pencatatan produksi.
Melalui pesan “Jujur”, Perhutani mendorong ketelitian dalam setiap tahapan produksi getah. Mulai dari pohon di hutan, hasil yang dikumpulkan penyadap, penimbangan di TPG, hingga data administrasi, seluruh proses perlu saling terhubung. Ketepatan angka bukan hanya soal pencatatan, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap hasil kerja penyadap serta upaya menjaga tata kelola produksi agar tetap dapat dipercaya.(Byt/Mei)
Editor: Nasyia
Copyright © 2026
















Leave a Reply