Perhutani KPH Banyumas Timur Optimalkan Penanganan Getah Pinus untuk Jaga Mutu

BANYUMAS TIMUR (28/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memperhatikan penanganan getah pinus sejak dikumpulkan dari pohon hingga diterima di tempat pengumpulan. Waktu tunggu sebelum pengangkutan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan karena getah yang terlalu lama berada di tempat penampungan dapat mengalami perubahan kondisi dan berisiko tercampur dengan pengotor dari lingkungan. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan penerimaan getah pinus di Tempat Pengumpulan Getah (TPG) Welirang, wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Timur, Rabu (26/08).

Kepala BKPH Gunung Slamet Timur mewakili Administratur KPH Banyumas Timur mengatakan bahwa pengelolaan getah perlu memperhatikan waktu dan kondisi hasil selama menunggu pengangkutan. Getah yang telah terkumpul tetap perlu dijaga agar tidak mengalami penurunan kondisi sebelum memasuki tahap berikutnya.

“Setelah getah dikumpulkan, penanganannya tidak boleh berhenti begitu saja. Semakin lama menunggu, semakin besar peluang getah mengalami perubahan fisik atau terkena pengotor. Karena itu, pengelolaan waktu pengangkutan dan kondisi tempat penampungan menjadi bagian penting untuk menjaga hasil,” ujarnya.

Getah pinus merupakan resin yang keluar dari saluran resin setelah batang mengalami luka sadap. Ketika berada di lingkungan terbuka, resin terus berinteraksi dengan udara dan kondisi di sekitarnya.

Salah satu perubahan yang dapat terjadi adalah perubahan kekentalan. Getah yang berada lebih lama di tempat terbuka dapat menjadi lebih kental dan mengalami perubahan fisik. Kondisi tersebut berbeda dengan getah yang baru keluar dari pohon.

Waktu tunggu juga berkaitan dengan kebersihan. Semakin lama getah berada di tempat terbuka, semakin besar kemungkinan debu, daun, serpihan kulit kayu, atau benda asing lainnya masuk ke dalam wadah. Jika kondisi tempat penampungan tidak dijaga, pengotor dapat ikut terbawa saat getah diangkut.

Air juga perlu menjadi perhatian. Ketika hujan turun, getah yang berada di wadah terbuka berpotensi bercampur dengan air. Kondisi tersebut dapat memengaruhi hasil dan membuat proses penanganan berikutnya menjadi lebih sulit.

Dengan demikian, keterlambatan pengangkutan bukan sekadar persoalan waktu, tetapi juga berkaitan dengan cara getah harus ditangani. Semakin lama hasil menunggu, semakin penting kondisi tempat penyimpanan dan wadah diperhatikan.

Di TPG Welirang, tenaga alih daya (TAD), Arip dan Eko, melakukan penerimaan hasil sebelum getah memasuki proses selanjutnya.

Arip mengatakan bahwa kondisi getah perlu diperhatikan sejak diterima. Menurutnya, hasil yang masuk harus dipastikan tertangani dengan baik agar proses penerimaan berjalan lancar.

“Kalau getah sudah terkumpul, sebisa mungkin jangan terlalu lama dibiarkan tanpa penanganan. Kondisi wadah dan kebersihan juga perlu diperhatikan supaya hasil yang diterima tetap baik,” ujarnya.

Eko menambahkan bahwa waktu pengangkutan perlu disesuaikan dengan kondisi operasional di lapangan.

“Pengangkutan perlu diatur supaya hasil yang sudah dikumpulkan dapat segera diproses. Apalagi kalau volumenya cukup banyak. Penanganan yang tertib membantu menjaga kondisi getah sampai tahap berikutnya,” ujarnya.

Bagi masyarakat awam, waktu tunggu sebelum pengangkutan mungkin terlihat tidak memberikan dampak besar karena getah telah berada di dalam wadah. Padahal, getah merupakan bahan yang tetap dapat mengalami perubahan setelah keluar dari pohon.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan pascapanen merupakan bagian penting dalam proses produksi. Hasil yang diperoleh melalui proses penyadapan tetap perlu dijaga agar tidak mengalami kehilangan atau perubahan yang tidak diinginkan.

Perhutani terus mendorong agar setiap tahapan dilakukan secara tertib, mulai dari pengumpulan getah di pohon, penampungan, penerimaan di TPG, hingga pengangkutan menuju tahap berikutnya. Setiap tahapan memiliki potensi masalah apabila tidak ditangani dengan baik.

Penerimaan getah di TPG Welirang menjadi salah satu gambaran bahwa volume produksi perlu diimbangi dengan pengelolaan yang baik. Semakin banyak hasil yang dikumpulkan, semakin penting pula pengaturan waktu dan tempat penampungan.

Pada akhirnya, menjaga mutu getah bukan hanya tentang mendapatkan hasil sebanyak mungkin dari pohon. Hasil yang telah terkumpul juga harus dijaga agar tetap berada dalam kondisi baik hingga meninggalkan TPG.

Melalui pesan “Hutan Lestari Kita”, Perhutani mengajak masyarakat memahami bahwa setiap hasil hutan memiliki proses panjang. Dari satu tetes getah di batang hingga ribuan kilogram yang diterima di TPG, semuanya membutuhkan ketelitian. Pengangkutan tepat waktu menjadi salah satu bagian penting yang dapat membantu menjaga hasil tersebut tetap bernilai. (Byt/Mei)

Editor: Nisa

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *