Perhutani Membaca Respons Getah Pinus RPH Kebasen Saat Kemarau

BANYUMAS TIMUR, (02/09/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memantau kondisi tegakan pinus, terutama ketika menghadapi periode kemarau yang berlangsung panjang pada Rabu (02/09). Perubahan ketersediaan air di dalam tanah dapat memengaruhi kondisi fisiologis pohon dan pada akhirnya berpengaruh terhadap kegiatan penyadapan getah.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebasen, Kuswoyo, mengatakan bahwa kondisi pohon perlu menjadi perhatian dalam kegiatan penyadapan karena produksi getah tidak hanya ditentukan oleh teknik sadap. Faktor lingkungan, termasuk ketersediaan air, juga ikut memengaruhi respons pohon.

“Pohon memiliki respons terhadap perubahan kondisi lingkungan. Karena itu, kondisi tegakan perlu diperhatikan agar kegiatan penyadapan tetap berjalan dengan baik dan sesuai kondisi lapangan,” ujarnya.

Ketika kemarau berlangsung panjang, air di dalam tanah semakin terbatas. Pohon kemudian melakukan berbagai penyesuaian untuk mengurangi kehilangan air. Salah satunya dengan mengatur bukaan stomata pada daun. Stomata merupakan pori-pori kecil yang menjadi jalur pertukaran gas sekaligus salah satu jalur keluarnya uap air.

Saat ketersediaan air menurun, stomata cenderung lebih tertutup untuk mengurangi kehilangan air. Kondisi tersebut dapat menekan laju fotosintesis karena pertukaran karbon dioksida menjadi lebih terbatas. Pada kondisi kekeringan yang lebih berat, pohon dapat mengurangi aktivitas pertumbuhan untuk mempertahankan fungsi hidupnya.

Respons tersebut juga memiliki kaitan dengan getah pinus. Getah merupakan hasil metabolisme pohon yang produksinya dipengaruhi oleh kondisi fisiologis dan lingkungan. Karena itu, perubahan suhu, kelembapan, serta ketersediaan air dapat membuat keluarnya getah tidak selalu berada pada tingkat yang sama.

Bukan berarti setiap periode kemarau otomatis membuat pohon berhenti menghasilkan getah. Respons setiap tegakan dapat berbeda, tergantung kondisi pohon, karakter tanah, umur tegakan, dan tingkat tekanan kekeringan yang dialami.

Hal inilah yang membuat pemantauan langsung menjadi penting. Bersama penyadap Tenaga Alih Daya (TAD), dilakukan pengecekan sadapan di petak 63 terhadap sadapan Suwandi yang sedang dalam proses ludang. Pemeriksaan lapangan menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi pohon dan perkembangan kegiatan penyadapan.

“Proses ludang juga tidak sekadar mengejar jumlah getah yang terkumpul. Kondisi pohon dan sadapan perlu diperhatikan agar aktivitas yang dilakukan tetap sesuai dengan karakter tegakan,” katanya.

Dengan begitu, penyadapan tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan pohon sebagai sumber produksi.

Kepala RPH Kebasen, Baryoto, menambahkan bahwa bagi penyadap, memahami respons pohon terhadap musim menjadi bagian penting dari pekerjaan. Pohon yang berada di bawah tekanan kekeringan membutuhkan pengamatan lebih cermat.

“Kondisi lapangan dapat menjadi dasar untuk melihat apakah perubahan hasil merupakan bagian dari pengaruh lingkungan atau terdapat faktor lain yang perlu diperiksa,” imbuhnya.

Perhutani memandang pemantauan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan tegakan. Kemarau panjang memang menjadi tantangan bagi pohon, tetapi dengan pengamatan yang rutin, kondisi tegakan dapat lebih cepat diketahui dan kegiatan penyadapan dapat disesuaikan secara tepat.

Dari petak 63 hingga lokasi sadapan lainnya, setiap pohon memiliki cerita yang berbeda. Memahami cerita tersebut menjadi bagian dari upaya merawat hutan sekaligus menjaga keberlanjutan hasil hutan yang berasal darinya. (Byt/Mei)

Editor: Baim

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *