Perhutani dan Penyadap RPH Serang Berkomitmen Jaga Konsistensi Serta Stabilitas Produksi Getah

BANYUMAS TIMUR (16/09/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memperhatikan konsistensi produksi getah pinus pada setiap petak, Selasa (15/09). Dalam pengelolaan hasil hutan, petak dengan produksi tertinggi tidak selalu menjadi satu-satunya ukuran. Pola hasil dari bulan ke bulan juga penting untuk melihat bagaimana tegakan mempertahankan produktivitasnya.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH), Bambang Sutanto, mengatakan bahwa konsistensi perlu dibaca dalam periode tertentu. Hasil satu kali penyadapan belum cukup untuk menggambarkan potensi suatu petak secara keseluruhan.

“Yang perlu kita lihat bukan hanya petak dengan hasil paling tinggi. Konsistensi produksi dari waktu ke waktu juga penting. Dengan melihat pola bulanan, kita bisa memahami kondisi tegakan dan kegiatan penyadapannya dengan lebih baik,” ujarnya.

Produksi getah dapat berubah dari satu bulan ke bulan berikutnya. Curah hujan, suhu, kelembapan, kondisi tanah, dan kesehatan pohon dapat memberikan pengaruh. Aktivitas penyadapan juga menjadi bagian dari faktor yang perlu diperhatikan.

Karena itu, petak yang menghasilkan banyak getah pada satu periode belum tentu menghasilkan jumlah yang sama pada periode berikutnya. Sebaliknya, petak dengan hasil sedang tetapi relatif stabil dapat memberikan gambaran yang berbeda ketika datanya dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang.

Konsistensi juga tidak berarti setiap bulan harus menghasilkan angka yang persis sama. Fluktuasi tetap dapat terjadi karena perubahan kondisi lingkungan. Yang menjadi perhatian adalah pola hasilnya. Apakah produksi cenderung bertahan pada kisaran tertentu, mengalami perubahan tajam, atau menunjukkan pola yang berkaitan dengan kondisi lapangan.

Pengecekan kegiatan penyadapan menjadi salah satu cara untuk memahami kondisi tersebut. Petugas melakukan cek sadapan di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Serang. Dalam kegiatan tersebut, penyadap Carso telah menyelesaikan proses ludang dan memperoleh dua fiber getah.

Carso mengatakan bahwa hasil yang diperoleh tidak selalu sama pada setiap waktu. Kondisi pohon dan bidang sadap menjadi hal yang diperhatikan selama kegiatan penyadapan.

“Kadang hasilnya bisa berbeda. Kami melihat kondisi pohonnya dan bidang sadapnya. Setelah ludang selesai, getah yang didapat juga mengikuti kondisi pohon,” kata Carso.

Menurutnya, penyadap juga perlu menjaga bidang sadapan agar kegiatan dapat terus dilakukan pada periode berikutnya. Hasil yang diperoleh hari itu menjadi bagian dari catatan kegiatan, bukan gambaran tunggal mengenai kemampuan pohon menghasilkan getah.

Kepala RPH Serang, Agus Ruswanto, mengatakan bahwa pencatatan hasil secara rutin dapat membantu melihat perubahan produksi secara lebih objektif.

“Kalau datanya dikumpulkan secara berkala, Perhutani bisa melihat pola produksi setiap petak. Dari situ, kondisi lapangan juga bisa menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan penyadapan,” katanya.

Bagi masyarakat awam, konsistensi produksi mungkin terlihat sederhana. Padahal, angka yang muncul di setiap periode merupakan hasil dari banyak faktor. Pohon yang sama dapat memberikan hasil berbeda ketika kondisi lingkungan berubah.

Karena itu, membaca produksi getah tidak cukup dengan mencari angka tertinggi. Data bulanan perlu dilihat sebagai sebuah pola. Hasil tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan kondisi tegakan dan catatan kegiatan di lapangan.

Melalui pengecekan sadapan dan pencatatan produksi secara rutin, Perhutani berupaya menjaga agar produktivitas getah tetap terpantau tanpa mengabaikan kondisi pohon. Langkah ini menjadi bagian dari pesan Hutan Lestari Kita, bahwa menjaga hasil hutan juga berarti memahami perubahan yang terjadi pada tegakan dari waktu ke waktu. (Byt/Mei)

Editor: Intan

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *