BANYUMAS TIMUR (27/09/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur memperhatikan posisi batok sebagai bagian penting dalam proses penampungan getah pinus, Sabtu (26/09). Wadah yang terlihat sederhana tersebut harus ditempatkan tepat di bawah ujung talang agar getah yang mengalir dari bidang sadap dapat masuk dan tertampung dengan baik. Posisi yang bergeser beberapa sentimeter sekalipun dapat membuat sebagian getah jatuh di luar wadah.
Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebasen, Kuswoyo, menjelaskan bahwa ketepatan posisi batok berkaitan langsung dengan aliran getah dari talang. Setelah getah keluar dari bidang sadap, talang berfungsi mengarahkannya menuju titik penampungan. Karena itu, posisi batok perlu mengikuti arah jatuh getah dari ujung talang. “Batok harus ditempatkan pada titik yang tepat di bawah ujung talang. Kalau posisinya terlalu ke samping atau terlalu jauh, getah yang sudah diarahkan melalui talang bisa tidak masuk seluruhnya ke wadah,” jelasnya.
Getah pinus memiliki sifat yang membuatnya dapat menempel pada permukaan benda sebelum akhirnya jatuh ke wadah. Ketika ujung talang tidak berada tepat di atas batok, aliran getah dapat jatuh mengenai batang pohon atau bagian luar wadah. Getah yang tercecer tersebut tidak lagi masuk ke dalam penampungan sehingga hasil yang terkumpul dapat berkurang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kehilangan hasil tidak selalu disebabkan oleh perubahan produktivitas pohon. Hal kecil dalam penempatan peralatan juga dapat memengaruhi jumlah getah yang berhasil dikumpulkan. Karena itu, pengecekan posisi batok menjadi bagian dari ketelitian yang perlu dilakukan penyadap secara berkala.
Posisi batok juga perlu menyesuaikan kondisi batang dan arah talang. Wadah yang dipasang terlalu rendah, terlalu tinggi, atau tidak tepat berada pada jalur jatuh getah dapat membuat penampungan kurang efektif. Selain itu, wadah perlu terpasang cukup stabil agar tidak mudah bergeser akibat aktivitas di sekitar pohon maupun kondisi lingkungan.
Ketelitian tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengumpulan yang kemudian terlihat saat hasil sadapan dibawa menuju tempat pengumpulan. Aktivitas setoran di Tempat Pengumpulan Getah (TPG) Mandirancan menunjukkan hasil yang datang dari sejumlah penyadap dalam waktu yang berdekatan. Penyadap Rasijo menyetorkan dua kandi, Karsim dua kandi, Tiwan empat kandi, sedangkan Sarwan menyetorkan dua omplong.
Setoran tersebut menggambarkan bahwa hasil yang diterima di tempat pengumpulan berasal dari proses panjang yang dimulai sejak getah keluar dari pohon. Sebelum sampai ke TPG, getah harus melewati tahapan penampungan pada pohon, pengumpulan, pemindahan, hingga penyetoran. Setiap tahap memiliki potensi kehilangan apabila penanganannya tidak dilakukan dengan cermat
Tiwan menyampaikan bahwa ketelitian saat mengumpulkan getah diperlukan agar hasil yang diperoleh dari lapangan dapat terkumpul secara maksimal. “Kami berusaha memastikan getah yang sudah terkumpul tidak tercecer sebelum dibawa untuk disetorkan,” ujarnya.
Bagi Perhutani, perhatian terhadap posisi batok merupakan bagian dari upaya menjaga setiap hasil yang keluar dari pohon. Peralatan sederhana tetap memiliki fungsi penting ketika ditempatkan pada posisi yang tepat. Semakin baik aliran getah diarahkan dan ditampung, semakin kecil peluang hasil tercecer sebelum masuk ke tahapan pengumpulan.
Perhutani terus mendorong penyadap untuk memperhatikan detail teknis dalam setiap kegiatan di lapangan. Dari memastikan ujung talang tepat mengarah ke batok hingga menjaga hasil saat dibawa ke tempat pengumpulan, ketelitian menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas sekaligus merawat proses pengelolaan getah secara berkelanjutan. (Byt/Mei)
Editor: Annisha
Copyright © 2026
















Leave a Reply