Perhutani Banyumas Timur Tingkatkan Pengawasan Penampungan Getah Pinus Saat Musim Hujan

BANYUMAS TIMUR (05/10/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memperhatikan berbagai kondisi yang dapat memengaruhi penanganan getah pinus di lapangan, Minggu (04/10). Salah satunya adalah masuknya air hujan ke dalam batok sebagai wadah penampungan getah pada pohon. Kondisi ini terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi keadaan getah yang terkumpul.

Getah pinus pada awalnya keluar dalam kondisi cair dan kemudian mengalami perubahan setelah terkena udara. Karena itu, keberadaan air dalam wadah penampungan perlu diperhatikan. Air hujan yang masuk ke batok dapat bercampur secara fisik dengan getah yang berada di dalamnya. Campuran tersebut membuat bahan yang terkumpul tidak lagi hanya terdiri dari getah.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebasen, Kuswoyo, menjelaskan bahwa kondisi penampungan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas getah sejak dari pohon. “Getah yang tertampung perlu dijaga agar tidak tercampur dengan bahan lain. Ketika air hujan masuk ke dalam batok, kondisi getah harus diperhatikan kembali saat proses pengumpulan dan penerimaan,” ujarnya.

Air dan getah memiliki sifat yang berbeda. Getah pinus merupakan campuran resin dan komponen lainnya, sedangkan air hujan memiliki sifat yang berbeda secara fisik. Ketika keduanya berada dalam satu wadah, air dapat berada sebagai bagian terpisah dari getah atau bercampur sementara akibat proses pengumpulan dan pergerakan bahan.

Pada kondisi tertentu, air juga dapat membuat getah terlihat lebih encer atau berubah penampakannya. Namun, perubahan tersebut tidak berarti bahwa sifat dasar getah berubah seluruhnya. Karena itu, pengamatan tidak cukup hanya berdasarkan warna atau tampilan permukaan. Kondisi bahan saat diterima perlu dilihat secara keseluruhan.

Masuknya air hujan juga menunjukkan pentingnya posisi batok. Wadah yang terpasang tepat di bawah arah aliran getah tetap memiliki fungsi utama untuk menangkap getah dari bidang sadap. Namun ketika hujan turun, wadah tersebut juga berpotensi menerima air dari lingkungan sekitar. Posisi wadah, kondisi penutup bila digunakan, serta kondisi lapangan menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Di lapangan, penyadap juga berhadapan dengan kondisi cuaca yang berubah. Saat hujan turun, perhatian tidak hanya tertuju pada kegiatan penyadapan. Kondisi wadah penampungan dan bahan yang telah terkumpul juga perlu diperhatikan agar proses pengumpulan berikutnya dapat berjalan dengan baik.

Pemantauan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengelolaan getah sebelum sampai ke tempat pengumpulan. Getah yang berasal dari banyak pohon kemudian dikumpulkan oleh penyadap dan dibawa menuju tempat penerimaan untuk ditimbang serta dicatat.

Salah satunya terlihat dalam monitoring setoran getah di Tempat Pengumpulan Getah (TPG) Mandirancan. Dalam kegiatan tersebut, dilakukan pemantauan setoran dari Sardi, Slamet, Daryono, dan Dahlan dengan total sebanyak 10 kandi. Setoran tersebut menjadi bagian dari aktivitas penerimaan getah dari lapangan setelah melalui proses penyadapan dan pengumpulan.

Menurut Sardi, perhatian terhadap kondisi getah sejak dari pohon membantu memastikan bahan yang dibawa ke tempat pengumpulan tetap dapat ditangani dengan baik. “Kalau hujan, kondisi getah di wadah memang harus diperhatikan. Yang penting saat dikumpulkan tetap dipantau kondisinya,” ujarnya.

Pemantauan di TPG menjadi titik penting karena kondisi getah dapat diamati setelah melewati proses dari pohon hingga tempat penerimaan. Penimbangan juga memberikan data mengenai jumlah getah yang berhasil dikumpulkan dari lapangan.

Air hujan tidak selalu dapat dihindari dalam kegiatan penyadapan yang berlangsung di ruang terbuka. Karena itu, pendekatan yang diperlukan bukan sekadar menghindari hujan, tetapi memahami dampaknya terhadap getah dan memperhatikan kondisi bahan sejak berada di batok hingga diterima di tempat pengumpulan.

Dari hal sederhana seperti air hujan yang masuk ke batok, terdapat rangkaian proses yang perlu diperhatikan. Getah yang keluar dari pohon, tertampung dalam wadah, terkena lingkungan, kemudian dikumpulkan dan ditimbang merupakan satu kesatuan proses. Perhutani terus mendorong perhatian terhadap setiap tahapan tersebut agar pengelolaan getah dilakukan secara cermat, terukur, dan tetap menjaga potensi hasil hutan secara berkelanjutan. Hutan Lestari Kita dimulai dari perhatian terhadap hal-hal kecil di lapangan. (Byt/Mei)

Editor: Annisha

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *