BANYUMAS TIMUR, (12/10/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur memahami bahwa pohon pinus dalam satu petak tidak selalu menghasilkan getah dalam jumlah yang sama, Sabtu (10/10). Meskipun tumbuh di kawasan yang relatif serupa, setiap pohon memiliki karakter biologis dan kondisi pertumbuhan yang dapat memengaruhi hasil sadapan. Perbedaan ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memahami produksi getah pinus di lapangan.
Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatilawang, Pratikno, menyampaikan bahwa pemahaman terhadap karakter setiap pohon penting dalam membaca hasil penyadapan. Produksi tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan perbandingan jumlah getah dari beberapa pohon tanpa mempertimbangkan kondisi tegakan, teknik penyadapan, dan waktu pengumpulan. Pengamatan yang lebih menyeluruh membantu menjelaskan mengapa hasil yang diperoleh dapat berbeda.
“Setiap pohon memiliki kondisi yang tidak selalu sama, meskipun berada dalam satu petak. Karena itu, hasil sadapan perlu dipahami dengan melihat kondisi pohon, bidang sadap, teknik pengerjaan, serta keadaan lingkungan. Perbedaan hasil tidak bisa langsung disimpulkan hanya dari ukuran batang atau letak pohon,” ujarnya.
Secara biologis, setiap pohon memiliki ukuran batang, umur, kondisi kesehatan, serta kemampuan fisiologis yang berbeda. Diameter batang dapat berkaitan dengan luas permukaan yang tersedia untuk penyadapan, tetapi tidak secara otomatis menentukan banyaknya getah yang dihasilkan. Pohon yang lebih besar belum tentu menghasilkan getah lebih banyak daripada pohon lain apabila kondisi kesehatannya, respons fisiologis, atau keadaan bidang sadapnya berbeda.
Getah pinus merupakan hasil proses biologis di dalam pohon. Resin terbentuk dan mengalir melalui saluran khusus yang terdapat pada jaringan pohon. Kemampuan produksi dan respons terhadap penyadapan dapat berbeda antarpohon. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, umur, kondisi jaringan, ketersediaan air, serta keadaan lingkungan di sekitar pohon.
Variasi juga dapat ditemukan pada pohon-pohon yang tumbuh berdekatan. Sebagian pohon mungkin memperoleh kondisi cahaya dan ruang tumbuh yang berbeda. Kondisi tanah dan persaingan antarpohon dalam memperoleh air serta unsur hara juga dapat memengaruhi pertumbuhan. Akibatnya, dua pohon yang berada dalam petak yang sama belum tentu menunjukkan aliran maupun hasil getah yang identik.
Pemahaman tersebut relevan dengan kegiatan monitoring penerimaan getah di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kaliputih. Di Tempat Penampungan (TP) Bantu Jatisaba, penyadap Komeng menyetorkan enam jerigen getah. Sementara itu, di TP Bantu Kalisueu, penyadap Kamilun menyetorkan sebelas jerigen. Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian dari pemantauan penerimaan hasil sadapan di wilayah RPH Kaliputih.
Kepala RPH Kaliputih, Salono, menjelaskan bahwa perbedaan jumlah setoran tersebut menunjukkan adanya variasi hasil yang diterima di masing-masing tempat pada kegiatan monitoring. Namun, angka enam dan sebelas jerigen belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa pohon yang disadap Kamilun lebih produktif daripada pohon yang disadap Komeng.
“Perbandingan seperti itu perlu mempertimbangkan jumlah pohon yang disadap, luas bidang sadap, lama pengumpulan, kondisi tegakan, serta periode penyetoran,” ungkapnya.
Komeng menyampaikan bahwa hasil yang dikumpulkan penyadap dapat berbeda sesuai kondisi pekerjaan di lapangan. “Hasil getah yang terkumpul bisa berbeda. Kondisi pohon dan bidang sadap perlu diperhatikan, begitu juga jumlah pohon yang dikerjakan dan waktu pengumpulan. Jadi, hasil setoran perlu dilihat sesuai kondisi masing-masing,” ujarnya.
Untuk memahami variasi biologis secara lebih akurat, pengamatan perlu dilakukan secara berulang. Catatan hasil per pohon, kondisi bidang sadap, karakter tegakan, dan periode pengumpulan dapat membantu membedakan variasi alami dari pengaruh teknik kerja atau perubahan cuaca. Dengan data tersebut, penilaian produktivitas dapat dilakukan secara lebih proporsional.
Melalui pemantauan sadapan dan penerimaan getah, Perhutani terus memperhatikan kondisi lapangan sebagai bagian dari pengelolaan hasil hutan. Setiap pohon memiliki karakter yang perlu dipahami, sementara setiap hasil setoran perlu dibaca sesuai konteksnya. Dengan mengenali variasi biologis dalam satu tegakan, pengelolaan penyadapan dapat dilakukan secara lebih cermat, terukur, dan berkelanjutan. (Byt/Mei)
Editor: Baim
Copyright © 2026
















Leave a Reply