Antisipasi Karhutla Tegal, Perhutani KPH Balapulang Intensifkan Patroli Bersama

BALAPULANG (15/7/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Balapulang meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring berlangsungnya musim kemarau pada Juli 2026. Kondisi tersebut ditandai dengan gugurnya daun pepohonan serta mulai mengeringnya sejumlah aliran sungai di beberapa wilayah hilir.

Di wilayah KPH Balapulang, beberapa petak kerja sama dengan PT Inhutani V melalui pengembangan tanaman Agroforestry Tebu Mandiri (ATM), yang direncanakan mulai dipanen pada awal Agustus, kini memasuki fase mengeringnya daun. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, baik pada tanaman tebu maupun tegakan jati di sekitarnya.

Untuk mengantisipasi dan meminimalkan terjadinya karhutla, Perhutani menggandeng Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Pemerintah Desa Cibunar, dan PT Inhutani V untuk melaksanakan patroli bersama di sejumlah wilayah rawan kebakaran. Patroli difokuskan terutama pada petak tanaman ATM yang berbatasan langsung dengan permukiman desa di tepi kawasan hutan.

Wakil Administratur KPH Balapulang Laode Sahara turun langsung meninjau petak-petak yang rawan terjadi karhutla. Laode, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana sekaligus Koordinator Keamanan Hutan (Korkam) KPH Balapulang, mengimbau seluruh jajaran agar meningkatkan patroli lapangan guna mengantisipasi aktivitas masyarakat maupun petani yang membakar serasah atau sisa panen tanaman palawija.

“Hasil rapat koordinasi pekan lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal mengingatkan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kekurangan air bersih, meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan sewaktu-waktu. Saya mengajak seluruh jajaran KPH, mulai dari Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) hingga mandor lapangan, untuk terus aktif melakukan sosialisasi dan komunikasi sosial kepada masyarakat, khususnya pada jam-jam rawan, secara berkelanjutan. Pencegahan jauh lebih baik daripada melakukan pemadaman,” ujar Laode.

Sementara itu, Ketua LMDH Desa Cibunar Toni Sugiharto menyampaikan apresiasi kepada jajaran Perhutani yang secara rutin menjalin silaturahmi dengan masyarakat, khususnya di Desa Cibunar yang berada di tengah kawasan hutan.

“Kami bersama kepala desa dan masyarakat akan terus menjaga lingkungan agar tidak ada warga yang membakar sampah, baik di kawasan hutan maupun di lingkungan permukiman,” pungkasnya. (Bpl/Jul)

Editor: Ulfa
Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *