Perhutani KPH Banyumas Timur dan Unsoed Perkuat Edukasi K3 di Wisata Alam Baturraden Adventure Forest

BANYUMAS TIMUR, PURWOKERTO (13/02/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur menerima sebanyak tujuh mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengikuti praktik inspeksi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di kawasan Baturraden Adventure Forest (BAF) pada Rabu (13/02). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran lapangan untuk mengenali potensi risiko kerja secara langsung di kawasan wisata alam berbasis hutan.

Baturraden Adventure Forest sendiri merupakan lokasi wisata alam hasil kerja sama operasi antara Perhutani KPH Banyumas Timur dan PT Bangkit Maju Wisata. Kawasan ekowisata ini berada di lereng selatan Gunung Slamet dengan bentang hutan damar dan pinus seluas sekitar 50 hektare. BAF dikenal sebagai lokasi wisata petualangan yang menggabungkan unsur gunung, sungai, hutan, dan kabut dalam berbagai aktivitas outdoor seperti camping, outbound, canyoning, water adventure, hingga eco adventure.

Dalam praktik tersebut, mahasiswa melakukan pengamatan terhadap sejumlah titik aktivitas wisata, jalur lapangan, perlengkapan keselamatan, hingga kondisi lingkungan kerja di area operasional. Mereka juga mempelajari potensi bahaya yang dapat memicu kecelakaan kerja maupun gangguan kesehatan bagi pekerja dan pengunjung.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa penerapan K3 di kawasan wisata alam memiliki tantangan berbeda dibanding lingkungan kerja biasa. Faktor cuaca, kondisi tanah, aktivitas fisik, hingga penggunaan peralatan lapangan menjadi bagian yang harus diperhatikan secara serius.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Sub Seksi Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L), Heri Kusnanto, menyampaikan bahwa edukasi K3 di lapangan penting dilakukan sejak masa perkuliahan. Menurutnya, pemahaman teori saja tidak cukup jika mahasiswa belum melihat langsung kondisi kerja sebenarnya.

“Lingkungan kerja Perhutani, khususnya yang terjun langsung di kawasan hutan dan wisata alam sangat erat dengan risiko keselamatan. Karena itu, adik-adik perlu memahami bahwa K3 bukan sekadar aturan administratif, tetapi bagian penting untuk melindungi manusia saat bekerja,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa sektor wisata alam sering dipandang hanya dari sisi rekreasi dan keindahan lokasi. Padahal, di balik kegiatan wisata terdapat tanggung jawab besar terhadap keselamatan pekerja maupun pengunjung. Risiko kecil yang diabaikan dapat berkembang menjadi kecelakaan serius jika pengawasan tidak dilakukan secara rutin. Menurutnya, budaya K3 perlu dibangun dari kebiasaan sederhana. Mulai dari pemeriksaan alat, pengecekan jalur aktivitas, penggunaan alat pelindung diri, hingga kesiapan penanganan keadaan darurat.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa FIKes Unsoed, Sidqi Amalia Rahmandhani, mengatakan praktik lapangan memberi pengalaman yang tidak bisa diperoleh sepenuhnya di ruang kelas. Mahasiswa dapat melihat bagaimana teori inspeksi diterapkan dalam situasi kerja yang dinamis.

“Kami juga ingin memahami risiko kerja di sektor kehutanan. Jadi kami tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengenali potensi bahaya dan langkah pencegahannya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Baturraden Adventure Forest menjadi lokasi pembelajaran yang relevan karena aktivitas wisata alam memiliki banyak unsur risiko yang harus dikendalikan dengan baik.

Secara umum, inspeksi K3 merupakan upaya untuk menemukan potensi bahaya sebelum menimbulkan kecelakaan atau kerugian. Dalam kegiatan lapangan, pemeriksaan rutin menjadi penting karena banyak risiko tidak selalu terlihat secara langsung. Karena itu, praktik seperti ini dinilai penting untuk membentuk pola pikir bahwa keselamatan kerja bukan tanggung jawab satu orang saja. Di kawasan wisata alam maupun sektor kehutanan, kelalaian kecil dapat berdampak besar jika tidak dicegah sejak awal. (Byt/Mei)

Editor: Diono

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *