BANYUMAS TIMUR (29/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur menggelar Apel Siaga dan Sosialisasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai bentuk kesiapan menghadapi musim kemarau pada Rabu (29/07) di Petak 44 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kalirajut. Kegiatan dilaksanakan bersama seluruh Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) beserta Mandor, Perwira Pembina Jagawana, jajaran Kepolisian Sektor sekitar, Penyuluh Kehutanan, Masyarakat Peduli Api (MPA), Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di sekitar BKPH Kebasen, serta sejumlah mitra pengelola wisata kawasan hutan.
Apel siaga menjadi langkah awal untuk menyatukan kesiapan seluruh pihak sebelum memasuki masa dengan tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi. Selain mengecek kesiapan personel, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menyamakan pola komunikasi, pembagian tugas, dan langkah penanganan apabila ditemukan titik api.
Musim kemarau sering kali meningkatkan risiko kebakaran karena kondisi vegetasi menjadi lebih kering. Pada saat seperti ini, keterlambatan informasi beberapa menit saja dapat membuat api cepat meluas. Oleh sebab itu, kesiapan personel di lapangan harus dibangun sebelum kejadian terjadi, bukan ketika kebakaran sudah sulit dikendalikan.
Wakil Administratur KPH Banyumas Timur, Sindar Pasaribu, dalam sambutannya mengatakan bahwa perlindungan hutan tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Menurutnya, keberhasilan pencegahan sangat bergantung pada kesiapan seluruh unsur yang berada di sekitar kawasan hutan.
“Apel siaga ini menjadi pengingat bahwa setiap pihak memiliki peran. Perhutani, aparat keamanan, relawan, masyarakat desa hutan, hingga pengelola wisata harus memiliki pemahaman yang sama tentang langkah pencegahan dan penanganan awal apabila terjadi kebakaran. Dengan koordinasi yang baik, risiko dapat ditekan sejak dini,” ujarnya.
Kehadiran MPA, LMDH, dan mitra wisata menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Mereka merupakan kelompok yang paling sering beraktivitas di sekitar kawasan hutan. Informasi dari masyarakat sering menjadi penentu cepat atau lambatnya penanganan kebakaran. Karena itu, membangun kepedulian masyarakat sama pentingnya dengan menyiapkan peralatan pemadaman.
Perwakilan Masyarakat Peduli Api Pati Geni, Darto, mengatakan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menekan risiko kebakaran hutan. Menurutnya, warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan umumnya menjadi pihak pertama yang mengetahui apabila muncul asap atau api.
“Kami berharap masyarakat tidak ragu untuk segera melapor ketika menemukan tanda-tanda kebakaran. Penanganan pada tahap awal jauh lebih mudah dibandingkan ketika api sudah meluas. Menjaga hutan bukan hanya tugas petugas, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Selain faktor cuaca, sebagian besar kebakaran hutan dipicu oleh aktivitas manusia. Membakar sampah di dekat kawasan hutan, meninggalkan api unggun, atau membuang puntung rokok sembarangan masih menjadi penyebab yang sering ditemukan. Kebiasaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat menimbulkan kerugian yang besar bagi lingkungan dan masyarakat.
Penyuluh Kehutanan Rawalo, Sri Retnaningsih, menjelaskan bahwa edukasi kepada masyarakat harus dilakukan secara berkelanjutan. Penyampaian informasi tidak cukup hanya saat musim kemarau, tetapi perlu menjadi kebiasaan agar masyarakat memahami penyebab kebakaran sekaligus cara mencegahnya.
“Sebagian besar kebakaran hutan sebenarnya dapat dicegah. Edukasi yang dilakukan secara rutin akan membangun kesadaran masyarakat untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di sekitar kawasan hutan. Harapannya, masyarakat tidak hanya mengetahui larangannya, tetapi juga memahami alasan mengapa hutan harus dijaga bersama,” jelasnya.
Melalui apel siaga ini, Perhutani berharap koordinasi antarlembaga semakin kuat dan respons di lapangan semakin cepat. Menjaga hutan bukan hanya tentang memadamkan api ketika bencana terjadi, tetapi juga memastikan setiap orang memahami tanggung jawabnya sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Kesiapsiagaan yang dibangun hari ini diharapkan menjadi fondasi agar kawasan hutan tetap lestari dan manfaatnya terus dirasakan oleh masyarakat. (Byt/Mei)
Editor: Diono
Copyright © 2026
















Leave a Reply