BANYUMAS BARAT | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Barat terus mengoptimalkan potensi sumber daya alam sekaligus meningkatkan capaian target produksi melalui program pemberdayaan masyarakat desa hutan. Langkah tersebut diwujudkan melalui pembinaan teknis dan pengarahan kerja bagi para mitra penyadap getah pinus yang berlangsung di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Wanareja, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wanareja, Rabu (16/09).
Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi Perhutani untuk meningkatkan sinergi dengan masyarakat sekitar hutan. Komoditas hasil hutan bukan kayu berupa getah pinus merupakan salah satu sumber pendapatan perusahaan sekaligus berperan dalam menggerakkan perekonomian masyarakat desa hutan.
Kegiatan tersebut dihadiri Administratur KPH Banyumas Barat Perhutani Tingkatkan Produksi Getah Pinus melalui Pembinaan PenyadapHerry Merkussiyanto Putro yang diwakili oleh Kepala BKPH Wanareja Sholehan. Turut hadir Kepala RPH Wanareja Sutedjo bersama jajaran petugas lapangan yang terdiri atas Kepala RPH, mandor Polisi Teritorial (Polter), dan mandor sadap, serta puluhan pekerja penyadap yang diwakili oleh Khodirin selaku perwakilan penyadap setempat.
Dalam arahannya, Kepala BKPH Wanareja Sholehan memaparkan pentingnya penerapan standardisasi teknik penyadapan yang benar untuk menjaga kontinuitas produksi tanpa mengganggu kelestarian pohon. Menurutnya, kualitas dan kuantitas getah sangat dipengaruhi oleh ketepatan metode pembaruan kedukan atau koakan pada batang pinus.
“Kegiatan pembinaan ini bertujuan menyamakan pemahaman di lapangan agar target produksi getah pinus tahun ini dapat tercapai secara maksimal. Kami mengedukasi para mitra mengenai teknik penyadapan yang ramah lingkungan, manajemen waktu pemungutan getah, serta pentingnya menjaga kebersihan getah dari sisa kulit kayu atau kotoran agar nilai jualnya tetap tinggi,” ujar Sholehan saat menyampaikan pesan Administratur KPH Banyumas Barat.
Lebih lanjut, Sholehan menegaskan komitmen Perhutani dalam memberikan kepastian kerja dan jaminan keselamatan bagi para penyadap. Ia mengingatkan bahwa kawasan hutan pinus memiliki risiko kebakaran, sehingga peran aktif penyadap sangat dibutuhkan untuk membantu petugas melakukan pemantauan di lapangan.
“Penyadap adalah ujung tombak kami dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu. Kami berharap hubungan yang harmonis ini terus terjaga demi kebaikan bersama,” tambahnya.
Respons positif dan antusiasme datang dari para pekerja hutan. Perwakilan penyadap, Khodirin, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bimbingan berkala yang diberikan oleh Perhutani. Menurutnya, program kemitraan tersebut sangat penting bagi keberlangsungan perekonomian masyarakat desa hutan.
“Kami selaku penyadap sangat terbantu dengan adanya program pemberdayaan dari Perhutani KPH Banyumas Barat ini. Lewat bimbingan teknis dari Kepala BKPH dan Kepala RPH, kami jadi tahu cara memperbarui kedukan getah secara efisien tanpa merusak pohon. Kami siap bekerja lebih giat dan berkomitmen penuh mendukung peningkatan produksi getah pinus di RPH Wanareja,” ungkap Khodirin.
Khodirin juga menyatakan bahwa para penyadap siap turut bertanggung jawab menjaga keamanan hutan, terutama dengan mengantisipasi dan melaporkan secara dini apabila muncul titik api di area kerja mereka.
Kegiatan tersebut ditutup dengan sesi diskusi dua arah, pembagian perlengkapan kerja secara simbolis, serta simulasi praktik pembaruan kedukan pada pohon pinus secara langsung di dalam petak hutan bersama jajaran petugas lapangan Perhutani. (Byb/Twn).
Editor: Nisa
Copyright © 2026
















Leave a Reply