Dorong Produktivitas Lahan, Perhutani Balapulang Sukseskan Panen Raya LMDH Tegal

BALAPULANG (3/7/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Balapulang terus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan melalui program tumpangsari. Memasuki musim panen kedua tahun 2026, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempol Jaya Tani, Desa Cibunar, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, menikmati hasil panen palawija yang melimpah dari lahan Perhutani di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kaligimber, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Margasari.

Ketua LMDH Gempol Jaya Tani, Toni Sigiharto, mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen yang memuaskan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Perhutani karena program tumpangsari telah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Cibunar yang sebagian besar menggantungkan mata pencaharian pada lahan hutan.

“Panen kali ini memberikan hasil yang sangat baik dengan harga jual yang stabil. Kami bersama para pesanggem dapat menjual hasil panen kepada koperasi tani dengan harga yang menguntungkan. Alhamdulillah, hasilnya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk persiapan biaya anak-anak yang akan memasuki jenjang SMP. Setelah masa garapan selama dua tahun berakhir, kami siap berpindah ke lokasi lain sesuai arahan petugas Perhutani,” jelasnya.

Administratur KPH Balapulang, Angkat Wijanto, menyampaikan bahwa masyarakat melalui LMDH diberikan kesempatan memanfaatkan lahan di bawah tegakan jati muda maupun pada areal teresan untuk menanam tanaman palawija dengan sistem tumpangsari. Namun, setelah masa pemanfaatan berakhir, petani diwajibkan meninggalkan lahan garapan dan berpindah ke lokasi lain yang telah ditetapkan sesuai ketentuan Perhutani.

“Kami berharap masyarakat ikut menjaga tanaman jati yang telah ditanam. Saat panen palawija, mohon tetap memperhatikan kondisi tanaman pokok. Apabila terdapat tanaman jati yang mati, segera laporkan kepada mandor atau mantri agar dapat segera dilakukan penyulaman. Dengan demikian, keberhasilan tanaman pokok dan tanaman tumpangsari dapat berjalan beriringan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan memasuki musim kemarau.

“Dalam waktu dekat kita memasuki musim kemarau. Kami mengimbau masyarakat agar berhati-hati saat membersihkan lahan dan tidak membakar sisa tanaman jagung di sekitar tegakan jati karena berpotensi memicu kebakaran hutan. Serasah jagung sebaiknya ditimbun agar menjadi kompos alami yang dapat dimanfaatkan pada musim tanam berikutnya,” pungkasnya. (BPL/Jul).

Editor : Ulfa

Coopyright @2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *