GUNDIH (11/06/2026) | Wisata alam Sendang Coyo di Desa Mlowokarangtalun, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, semakin menarik minat wisatawan lokal maupun domestik. Destinasi yang berada di petak 21E Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Panunggalan, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Coyo, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih tersebut terus berbenah guna meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pesona Desa Mlowokarangtalun, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mengalami peningkatan signifikan sejak pengelolaan Sendang Coyo dialihkan kepada BUMDes pada tahun 2018.
Sebelum dikelola secara mandiri oleh desa, Sendang Coyo hanya dikunjungi sekitar 10 hingga 15 orang per hari. Saat ini, jumlah wisatawan pada hari kerja mencapai puluhan orang per hari, sedangkan pada akhir pekan dan hari libur nasional jumlah kunjungan dapat mencapai 100 hingga 200 orang per hari.
Daya tarik utama objek wisata ini adalah kolam renang alami yang bersumber dari mata air jernih serta suasana lingkungan yang masih asri dan teduh, dikelilingi pohon-pohon besar yang telah berusia ratusan tahun.
Ketua BUMDes Pesona Desa Mlowokarangtalun, Budi Setiawan, mengatakan bahwa sejak dikelola BUMDes, Sendang Coyo terus mengalami pembenahan, baik dari sisi sarana maupun prasarana, guna meningkatkan kenyamanan pengunjung tanpa mengurangi keasrian alam yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
“Sejak dikelola BUMDes, Sendang Coyo terus berbenah. Sarana dan prasarana diperbaiki secara bertahap agar pengunjung semakin nyaman. Meskipun ada pembangunan fasilitas fisik, keasrian alamnya tetap kami jaga agar wisatawan betah berlama-lama,” ujar Budi Setiawan, Rabu (10/06/2026).
Untuk menikmati wisata alam tersebut, pengunjung hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang. Sumber mata air alami di Sendang Coyo juga dikenal tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau panjang. Pengelola secara berkala melakukan renovasi fasilitas pendukung, seperti kolam renang, gazebo, dan ruang pertemuan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata edukasi maupun acara komunitas.
Selain pembenahan infrastruktur, BUMDes juga mulai mengembangkan program pelestarian budaya lokal. Salah satu kegiatan yang akan digelar adalah peringatan 1 Sura atau 1 Muharam yang dipadukan dengan tradisi Grebeg Gunungan. Tradisi tersebut sebelumnya sempat meredup dan kini kembali dihidupkan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.
Melalui revitalisasi budaya tersebut, Sendang Coyo diharapkan tidak hanya menjadi destinasi rekreasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang mengenalkan nilai sejarah dan filosofi budaya masyarakat setempat kepada generasi muda.
“Terkait kegiatan ritual adat, saat ini pengelolaannya kami tata lebih baik. Tradisi yang sempat hampir hilang kami hidupkan kembali karena memiliki daya tarik budaya yang unik dan diminati wisatawan,” tambah Budi Setiawan.
Administratur/Kepala KPH Gundih, melalui Kepala BKPH Panunggalan, Jony Arianto, menyatakan dukungannya terhadap pengelolaan wisata berbasis masyarakat yang dijalankan BUMDes. Menurutnya, perkembangan wisata Sendang Coyo memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.
“Warga setempat kini memiliki berbagai peluang usaha dari sektor pariwisata, mulai dari kuliner khas daerah, penyewaan wahana permainan, hingga pemberdayaan pemuda sebagai pemandu wisata lokal,” kata Jony Arianto.
Meski operasional wisata telah dikelola oleh BUMDes, Perhutani tetap memberikan pendampingan dan pengawasan agar pengembangan wisata berjalan selaras dengan fungsi konservasi kawasan hutan. Ke depan, pemerintah desa bersama BUMDes diharapkan dapat menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan pariwisata berbasis alam yang ramah lingkungan.
“Daya tarik utama Sendang Coyo adalah tradisi Grebeg Gunungan dalam menyambut 1 Muharam. Warisan budaya ini perlu terus dilestarikan karena terbukti menjadi magnet yang mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara,” pungkasnya. (Gdh/Dwi)
Editor: Hening
Copyright © 2026
















Leave a Reply