BANYUMAS TIMUR (06/09/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus mendorong kegiatan penyadapan getah pinus yang memperhatikan produktivitas sekaligus keberlanjutan kondisi pohon, Sabtu (06/09). Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kedalaman luka sadapan yang dibuat menggunakan pisau sadap.
Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebasen, Kuswoyo, mengatakan bahwa kegiatan penyadapan tidak hanya berorientasi pada jumlah getah yang diperoleh, tetapi juga harus memperhatikan kondisi pohon dalam jangka panjang. Teknik sadap yang tepat diperlukan agar pohon tetap mampu mendukung produksi secara berkelanjutan.
“Penyadapan harus dilakukan sesuai ketentuan dan memperhatikan kondisi pohon. Kedalaman luka tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan keinginan untuk mendapatkan getah lebih banyak,” ujarnya.
Pada pohon pinus, getah tersimpan dan dialirkan melalui saluran resin di dalam jaringan batang. Ketika kulit batang dilukai, saluran tersebut terbuka sehingga getah keluar dan kemudian diarahkan menuju wadah penampungan melalui talang.
Di sinilah kedalaman pisau menjadi penting. Luka sadapan yang terlalu dangkal dapat membuat pembukaan saluran resin kurang optimal. Namun, membuat luka terlalu dalam juga bukan solusi untuk meningkatkan produksi.
Luka yang terlalu dalam dapat memasuki jaringan batang lebih jauh dari yang diperlukan. Selain meningkatkan risiko kerusakan jaringan, kesalahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan pohon menghadapi siklus penyadapan berikutnya. Jika dilakukan berulang, kerusakan pada bidang sadap dapat semakin besar dan mengurangi ruang yang tersedia untuk penyadapan secara berkelanjutan.
Artinya, keberhasilan penyadapan bukan ditentukan oleh seberapa dalam pisau masuk ke batang, melainkan seberapa tepat luka dibuat sesuai teknik yang ditetapkan. Prinsipnya adalah memperoleh getah tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap kondisi pohon.
Pengawasan di lapangan menjadi bagian penting untuk menjaga penerapan teknik tersebut. Petugas dapat melihat langsung kondisi bidang sadap, memperhatikan pola luka, serta memastikan kegiatan penyadapan tetap dilakukan secara terukur. Pendekatan ini membuat produksi tidak hanya mengejar hasil hari ini, tetapi juga mempertimbangkan produktivitas pohon pada periode berikutnya.
Rangkaian produksi kemudian berlanjut hingga getah diterima di Tempat Pengumpulan Getah (TPG). Aktivitas tersebut bahkan dapat berlangsung hingga sore atau malam hari. Pada salah satu kegiatan penerimaan di TPG Kalirajut, lansir getah milik Rosyidin tercatat sebanyak dua kandi pada pukul 18.07.
“Yang penting bukan hanya mengejar banyaknya hasil. Getah juga harus dijaga supaya tetap bersih dan tidak banyak tercampur. Kalau dari awal sudah diperhatikan, saat dibawa untuk disetor juga lebih mudah,” ujar Rosyidin.
Penerimaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang getah pinus sejak disadap dari batang hingga dikumpulkan di TPG. Di setiap tahap, ketelitian tetap diperlukan agar hasil produksi dapat tercatat dengan baik dan kualitas getah tetap terjaga.
Bagi Perum Perhutani KPH Banyumas Timur, menjaga teknik penyadapan berarti menjaga dua hal sekaligus: produksi getah dan keberlangsungan tegakan pinus. Karena pohon yang tetap sehat dan produktif menjadi modal utama agar kegiatan penyadapan dapat terus berlangsung.
Pada akhirnya, pisau sadap bukan alat untuk mengejar kedalaman. Pisau adalah alat untuk membuat luka yang terukur. Semakin tepat tekniknya, semakin besar peluang produksi berjalan konsisten tanpa mengorbankan kondisi pohon. Inilah bagian dari semangat Hutan Lestari Kita: mengambil manfaat dari hutan dengan tetap menjaga kemampuan hutan untuk terus memberi manfaat. (Byt/Mei)
Editor: Nasyia
Copyright © 2026
















Leave a Reply