Manfaatkan Kondisi Kemarau, KPH Banyumas Timur Optimalkan Penyadapan Getah Pinus

BANYUMAS TIMUR (18/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus melakukan pengecekan kegiatan penyadapan getah pinus untuk menjaga produktivitas dan mutu hasil sadapan pada Senin (17/08). Kondisi cuaca menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena hujan dapat memengaruhi proses keluarnya, mengalirnya, hingga terkumpulnya getah.

Saat ini, kondisi kemarau memberikan ruang yang relatif lebih baik bagi kegiatan penyadapan. Hal tersebut terlihat dalam pengecekan lokasi sadapan di petak 25 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sidamulih, wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebasen.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala BKPH Kebasen, Kuswoyo, mengatakan bahwa hubungan antara hujan dan produksi getah tidak sesederhana anggapan bahwa hujan selalu membuat produksi turun. Air hujan lebih banyak memengaruhi kondisi di sekitar bidang sadap dan proses pengumpulan getah.

“Cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penyadapan. Saat kondisi lebih kering, bidang sadap dan aliran getah relatif tidak banyak terganggu oleh air hujan. Namun, produktivitas tetap ditentukan oleh kondisi pohon, teknik penyadapan, dan faktor lingkungan lainnya,” ujarnya.

Ketika hujan turun, air dapat mengenai bidang sadap dan talang. Air yang masuk ke area tersebut dapat bercampur dengan getah yang masih berada di sekitar bidang sadap. Kondisi ini dapat membuat hasil sadapan menjadi lebih encer atau mengubah karakter getah yang sedang dikumpulkan.

Air juga dapat mengganggu aliran getah menuju wadah. Getah yang seharusnya mengalir melalui talang dapat tercampur dengan air hujan. Akibatnya, hasil yang terlihat di wadah tidak selalu menggambarkan jumlah resin murni yang keluar dari pohon.

Hujan juga dapat membuat permukaan batang dan area sekitar bidang sadap menjadi lebih basah. Kondisi tersebut perlu diperhatikan penyadap ketika melakukan pekerjaan berikutnya. Bidang sadap yang basah dapat membuat proses penyadapan menjadi kurang optimal jika tidak ditangani dengan baik.

Sebaliknya, kondisi kemarau seperti saat ini membuat bidang sadap cenderung lebih kering. Hal tersebut membantu penyadap melakukan pekerjaan dengan kondisi lapangan yang lebih mendukung. Getah juga tidak langsung bercampur dengan air hujan sehingga proses pengumpulan dapat berlangsung lebih baik.

Dalam pengecekan di petak 25 RPH Sidamulih, salah seorang penyadap, Sarmidi, terlihat menjalankan proses pembukaan quarre kedua. Tahap tersebut merupakan bagian dari siklus penyadapan yang dilakukan secara bertahap pada batang pinus.

“Kalau kondisi cuaca sedang kering seperti sekarang, pekerjaan di lapangan lebih nyaman. Bidang sadap juga lebih mudah diperhatikan karena tidak terganggu air hujan. Kami tetap melihat kondisi pohon dan bidang sadap sebelum melakukan pekerjaan,” ujar Sarmidi.

Meski demikian, kemarau bukan berarti penyadapan dapat dilakukan tanpa memperhatikan kondisi pohon. Kondisi tanah yang kering dan ketersediaan air tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Pohon membutuhkan keseimbangan lingkungan untuk mempertahankan pertumbuhan dan fungsi fisiologisnya.

Karena itu, menyebut “hujan menurunkan produksi getah” perlu dipahami secara lebih hati-hati. Hujan dapat mengganggu proses pengumpulan dan memengaruhi kondisi getah, tetapi jumlah resin yang dihasilkan pohon juga dipengaruhi banyak faktor lain.

Bagi masyarakat awam, hal ini menjelaskan mengapa cuaca menjadi bagian penting dalam pekerjaan penyadap. Getah yang terlihat di wadah merupakan hasil dari proses yang berlangsung sejak resin keluar dari saluran dalam batang hingga akhirnya dikumpulkan.

Perhutani terus melakukan pengecekan sadapan di tingkat tapak untuk melihat kondisi pohon dan hasil kerja penyadap. Pengecekan seperti di petak 25 RPH Sidamulih menjadi bagian dari upaya menjaga agar proses penyadapan tetap berjalan sesuai teknik dan kondisi lapangan.

Melalui pesan “Hutan Lestari Kita”, Perhutani mengajak masyarakat memahami bahwa produktivitas getah tidak berdiri sendiri. Cuaca, kondisi pohon, teknik penyadapan, dan ketelitian penyadap saling berkaitan. Saat kemarau memberikan kondisi lapangan yang lebih mendukung, kesempatan tersebut perlu dimanfaatkan dengan tetap menjaga pohon agar produktif secara berkelanjutan. (Byt/Mei)

Editor: Nasyia
Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *