Optimalkan Hasil, Perhutani Sesuaikan Metode Sadapan Dengan Kondisi Lapangan RPH Siweru

BANYUMAS TIMUR (12/10/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur memperhatikan kondisi tapak sebagai salah satu aspek dalam memahami kegiatan penyadapan getah pinus, Sabtu (10/10). Ketinggian tempat menjadi bagian dari karakter lingkungan yang dapat berkaitan dengan suhu, kelembapan, dan kondisi tanah. Perbedaan karakter tersebut dapat memengaruhi lingkungan tumbuh pohon serta kondisi kerja penyadap di lapangan.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangkobar, Sindar Pasaribu, menyampaikan bahwa kondisi tapak perlu dipahami secara menyeluruh ketika mengevaluasi kegiatan penyadapan. Ketinggian dapat menjadi salah satu informasi untuk membaca perbedaan lingkungan, tetapi tidak tepat jika digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menilai potensi getah. Pengamatan perlu mempertimbangkan kondisi pohon, karakter tegakan, teknik kerja, dan perkembangan hasil sadapan.

“Ketinggian tempat merupakan salah satu karakter tapak yang perlu diperhatikan. Namun, hasil sadapan tidak bisa ditentukan hanya dari tinggi atau rendahnya lokasi. Kondisi pohon, lingkungan tumbuh, teknik penyadapan, dan penanganan getah tetap perlu diamati secara bersama-sama,” ujarnya.

Ketinggian tempat tidak secara langsung menentukan banyak atau sedikitnya getah yang dihasilkan. Pengaruhnya berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan yang menyertai perbedaan elevasi. Pada lokasi yang lebih tinggi, suhu udara umumnya cenderung lebih rendah dibandingkan lokasi yang lebih rendah pada kawasan dan kondisi cuaca yang sebanding. Namun, keadaan sebenarnya tetap dipengaruhi oleh paparan matahari, tutupan tajuk, arah lereng, angin, dan kondisi setempat.

Perbedaan suhu dapat berkaitan dengan sifat fisik getah setelah keluar dari bidang sadap. Suhu memengaruhi kekentalan dan kecepatan perubahan kondisi getah setelah terpapar udara. Meski demikian, aliran getah tidak hanya ditentukan oleh suhu. Kondisi fisiologis pohon, karakter saluran resin, teknik penyadapan, serta waktu pengumpulan juga perlu diperhitungkan.

Kelembapan dan kondisi tanah turut menjadi bagian dari karakter tapak. Ketersediaan air bagi pohon dapat berkaitan dengan kondisi pertumbuhan dan respons fisiologisnya. Akan tetapi, ketinggian tidak selalu berbanding lurus dengan kelembapan atau ketersediaan air. Lokasi yang tinggi belum tentu lebih lembap daripada lokasi yang lebih rendah karena keadaan tersebut juga dipengaruhi hujan, drainase, tutupan vegetasi, dan karakter tanah.

Perhatian terhadap hasil sadapan juga dilakukan melalui monitoring penerimaan getah pinus di Tempat Penampungan (TP) Bantu Mandaran, BKPH Karangkobar. Dalam kegiatan tersebut, Madin dan Mulyo, penyadap dari Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Siweru, berencana menyetorkan empat fiber getah. Rencana setoran tersebut menjadi bagian dari aktivitas penyadapan yang dipantau di wilayah kerja Perhutani.

Kepala RPH Siweru, Akhmad Muzamil, menjelaskan bahwa rencana setoran empat fiber memberikan gambaran mengenai hasil yang sedang dipersiapkan untuk diserahkan ke tempat penerimaan. Namun, jumlah tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan pengaruh ketinggian terhadap produktivitas.

“Penilaian semacam itu membutuhkan informasi tambahan, seperti jumlah pohon yang disadap, luas bidang sadap, periode pengumpulan, dan karakter tapak tempat penyadapan berlangsung,” ujarnya.

Madin menyampaikan bahwa kondisi di lokasi sadapan perlu diperhatikan selama bekerja. “Setiap lokasi punya kondisi yang perlu dicermati. Kami tetap memperhatikan bidang sadap dan proses pengumpulan supaya getah yang sudah terkumpul bisa disiapkan untuk disetorkan dengan baik,” ujarnya.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat, pemantauan kondisi tapak dapat dilakukan dengan mencatat ketinggian lokasi, kondisi tegakan, suhu dan kelembapan, serta hasil setoran pada periode yang sebanding. Data tersebut dapat membantu menjelaskan apakah perbedaan hasil berkaitan dengan karakter lingkungan, teknik penyadapan, atau faktor lainnya. Pengamatan berulang juga diperlukan agar kesimpulan tidak hanya bertumpu pada satu kali setoran.

Melalui pemantauan lapangan dan penerimaan getah, Perhutani terus memperhatikan hubungan antara kondisi tapak dan kegiatan penyadapan. Ketinggian merupakan salah satu bagian dari lingkungan tumbuh yang perlu dipahami, bukan patokan tunggal untuk menentukan hasil. Dengan membaca kondisi secara menyeluruh, pengelolaan sadapan dapat dilakukan lebih cermat sesuai karakter setiap lokasi. (Byt/Mei)

Editor: Febby

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *