Perhutani Budi Dayakan Indigofera sebagai Sumber Pakan Ternak Kaya Nutrisi

CEPU, (20/10/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu bersama akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan tanaman indigofera sebagai hijauan pakan ternak bernutrisi tinggi pada Senin (19/10). Tanaman jenis leguminosa ini berpotensi menjadi sumber protein nabati untuk mendukung kebutuhan pakan ternak, khususnya sapi, kambing, dan domba.

Administratur KPH Cepu, Yeni Ernaningsih, menyampaikan bahwa kerja sama dengan kalangan akademisi merupakan langkah strategis untuk mengembangkan potensi tanaman yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Perhutani menyambut baik kolaborasi dengan profesor dari IPB dalam pengembangan indigofera sebagai tanaman pakan ternak bernutrisi tinggi.

“Kami berharap pengembangan ini tidak hanya mendukung ketersediaan pakan berkualitas bagi peternak, tetapi juga menjadi peluang untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Melalui sinergi antara Perhutani, akademisi, dan masyarakat, kami optimistis inovasi ini dapat dikembangkan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Sementara itu, mahasiswa IPB, Fajar Nusantara, menjelaskan bahwa Indigofera sp. merupakan jenis leguminosa yang berpotensi besar sebagai hijauan pakan ternak unggul karena memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Tanaman ini berbentuk pohon kecil dengan tinggi mencapai 5–6 meter. Daunnya tersusun berseling dan menyirip dengan ukuran 3–25 cm. Bunganya berukuran kecil dan tersusun dalam tandan berbentuk raceme di ketiak daun, dengan panjang 2–15 cm.

Tanaman pakan ini memiliki banyak cabang dengan daun berbentuk lonjong. Bunganya didominasi warna merah muda atau merah marun, sedangkan sebagian lainnya berwarna putih kekuningan. Polong Indigofera sp. berukuran 1,5–4 cm dan berisi 6–8 biji. Polong berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi cokelat ketika matang.

Lebih lanjut, Fajar menjelaskan bahwa Indigofera sp. memiliki keunggulan agronomis dengan produktivitas mencapai 31–51 ton bahan kering (BK) per hektare per tahun. Tanaman ini juga mampu bertahan di lahan kering dengan kapasitas lapang hingga 25%.

Dari sisi nutrisi, Indigofera sp. mengandung protein kasar sebesar 24,57%, serat kasar 18,18%, kalsium 1,59%, fosfor 0,22%, dan energi sebesar 2.667 kkal/kg. Tingkat kecernaan bahan keringnya mencapai 76%, sedangkan kecernaan bahan organiknya sebesar 83%. Kandungan asam lemak volatil (Volatile Fatty Acid atau VFA) total berkisar antara 135,54–157,06 mM.

Selain itu, Indigofera sp. mengandung senyawa fenol sebesar 0,22% dan flavonoid sebesar 0,14%. Tanaman ini juga mengandung sejumlah senyawa antinutrisi, antara lain tanin, saponin, alkaloid, glikosida karbohidrat, terpenoid, steroid, dan indospicine.

Fajar menjelaskan bahwa kandungan flavonoid, saponin, dan tanin dalam Indigofera sp. memiliki aktivitas biologis yang berpotensi berperan sebagai antioksidan dan antimikroba. Senyawa tersebut dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri, virus, dan jamur. Namun, pemanfaatannya sebagai pakan ternak tetap perlu memperhatikan komposisi dan kadar senyawa antinutrisi agar sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak.

Melalui pengembangan tanaman indigofera bersama akademisi IPB, Perhutani KPH Cepu berharap dapat mendorong inovasi penyediaan pakan ternak berkualitas, meningkatkan produktivitas peternakan, serta membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. (Cpu/Pai).

Editor: Intan

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *