KEDU UTARA (30/09/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara mendorong masyarakat desa hutan untuk mengembangkan tanaman kopi sebagai komoditas produktif yang memiliki nilai ekonomi. Pengembangan kopi dinilai dapat menjadi alternatif usaha jangka panjang sekaligus mendukung peningkatan pendapatan masyarakat sekitar hutan, Rabu (30/09).
Tanaman kopi memiliki nilai ekonomi yang menarik dibandingkan tanaman semusim. Selain dapat dipanen secara berkelanjutan, kopi juga memiliki pasar yang luas. Perkembangan tren konsumsi kopi di berbagai kalangan turut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan kopi tidak hanya sebagai hasil perkebunan, tetapi juga sebagai produk unggulan daerah.
Administratur KPH Kedu Utara, Dimyati, mengatakan bahwa pengembangan kopi di kawasan desa hutan perlu dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian lahan, teknik budidaya, produktivitas, serta kelestarian kawasan hutan.
“Tanaman kopi memiliki peluang ekonomi yang baik dan pasarnya terus berkembang. Perhutani mendorong masyarakat untuk mengembangkan kopi secara produktif dan berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, kopi juga dapat menjadi brand atau produk khas daerah yang memiliki nilai tambah,” ungkap Dimyati.
Menurutnya, Perhutani terbuka untuk menjalin kerja sama dengan masyarakat melalui skema kemitraan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan ruang usaha bagi masyarakat sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kelestarian hutan.
Ketua LMDH Rimba Mulya Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Sukidi, mengatakan bahwa tanaman kopi telah memberikan manfaat bagi masyarakat. Hasil panen kopi dapat menjadi sumber pendapatan yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kopi ini cukup membantu kehidupan masyarakat. Dari hasil tanaman kopi, kami bisa menopang kebutuhan keluarga sehari-hari. Karena itu, kami ingin tanaman kopi terus dikembangkan dan dirawat dengan baik agar hasilnya semakin meningkat. Harapannya, kopi dari Desa Kandangan tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga bisa dikenal sebagai produk khas daerah,” kata Sukidi.
Pengembangan kopi di desa hutan bukan sekadar pilihan komoditas, tetapi juga menjadi langkah untuk membangun sumber penghidupan masyarakat yang lebih berkelanjutan. Dengan sinergi Perhutani, LMDH, dan masyarakat, potensi kopi diharapkan terus berkembang mulai dari budidaya, peningkatan kualitas, hingga pemasaran. Ke depan, kopi diharapkan mampu tumbuh menjadi produk khas yang memiliki nilai tambah, menopang perekonomian keluarga, sekaligus memperkuat kebermanfaatan kawasan hutan bagi masyarakat sekitar.(Kdu/Nurul)
Editor: Annisha
Copyright © 2026
















Leave a Reply