PEMALANG (13/07/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pemalang terus meningkatkan pengawasan dan monitoring kegiatan penerimaan kayu hasil produksi tebangan A2 di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Slarang. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya menjaga mutu dan kualitas kayu agar tetap sesuai standar. Monitoring dilaksanakan langsung oleh Administratur/Kepala KPH Pemalang bersama jajaran Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata serta petugas lapangan pada Minggu (12/07).
Administratur/Kepala KPH Pemalang, Heri Nur Afandi, menyampaikan bahwa monitoring dan pengawasan secara rutin merupakan langkah penting untuk memastikan seluruh kegiatan produksi berjalan efektif, tertib, dan tetap mengedepankan prinsip pengelolaan hutan lestari.
“Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, kami melakukan pengecekan secara menyeluruh terhadap proses penerimaan kayu hasil produksi, mulai dari kesesuaian dokumen, kualitas dan volume kayu, penataan di TPK, hingga aspek keamanan dan keselamatan kerja. Seluruh kegiatan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan rencana kerja yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan monitoring harian dan evaluasi berkala yang terintegrasi diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pencapaian target produksi, peningkatan kualitas hasil hutan, kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, serta keberlanjutan fungsi lingkungan.
Sementara itu, Ketua Kru Kapling TPK Slarang, Suroso, menyampaikan bahwa aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta kesejahteraan tenaga kerja tetap menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan kegiatan produksi.
Menurutnya, kegiatan monitoring dan evaluasi bersama mandor kapling juga menjadi sarana untuk menyampaikan berbagai kendala di lapangan, seperti faktor transportasi, proses pengangkutan kayu, maupun kebutuhan sarana pendukung lainnya. Seluruh masukan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi Perhutani dalam menyempurnakan pelaksanaan operasional di lapangan.
Ia berharap komunikasi yang terbuka antara Perhutani dan para pelaksana lapangan terus terjalin dengan baik sehingga tata kelola hutan produksi dapat berjalan secara lestari, produktif, dan memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi perusahaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. (Pml/Sks)
Editor: Hening
Copyright © 2026
















Leave a Reply