Perhutani Banyumas Timur Jaga Mutu Getah Pinus melalui Penyaringan Hasil Sadapan

BANYUMAS TIMUR 27/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memperhatikan kebersihan getah pinus sejak hasil sadapan dikumpulkan hingga memasuki tahap penerimaan pada Rabu (26/08). Salah satu tahapan penting dalam proses tersebut adalah penyaringan. Meski menggunakan alat sederhana, penyaringan berfungsi memisahkan benda asing yang ikut terbawa bersama getah.

Hal tersebut terlihat dalam kegiatan ludang yang dilakukan penyadap di petak 12J Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kaliputih. Dari lokasi tersebut, penyadap memperoleh hasil sebanyak 12 omplong getah.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatilawang, Pratikno, mengatakan bahwa penyaringan menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan getah karena hasil sadapan berpotensi membawa material lain dari lingkungan sekitar.

“Penyaringan membantu memisahkan benda asing yang ikut terbawa dalam getah. Namun, saringan bukan untuk mengubah mutu getah secara keseluruhan. Karena itu, menjaga kebersihan sejak proses penyadapan tetap menjadi hal utama,” ujarnya.

Secara alami, getah yang keluar dari batang tidak selalu terbebas dari material lain. Saat mengalir menuju wadah penampungan, getah dapat bersentuhan dengan kulit batang, debu, daun, serpihan kayu, maupun benda asing lain di sekitar bidang sadap.

Material tersebut dapat ikut terbawa saat getah dikumpulkan. Pada tahap inilah penyaringan memiliki fungsi untuk menahan benda asing berukuran tertentu yang tidak seharusnya berada di dalam getah.

Benda yang dipisahkan melalui proses penyaringan bukanlah getah, melainkan material asing yang ikut terbawa. Daun, serpihan kulit kayu, ranting kecil, tanah, atau benda lain menjadi contoh pengotor yang perlu dipisahkan sebelum getah memasuki tahap berikutnya.

Namun, penyaringan tidak berarti seluruh persoalan mutu dapat diselesaikan. Getah yang telah tercampur air, misalnya, tidak otomatis kembali ke kondisi semula hanya karena melewati saringan. Demikian pula perubahan fisik akibat penyimpanan terlalu lama tidak dapat diatasi hanya melalui proses penyaringan.

Kepala RPH Kaliputih, Salono, menambahkan bahwa penyaringan lebih tepat dipahami sebagai salah satu lapisan pengendalian mutu. Semakin baik kebersihan getah sejak awal, semakin sedikit pula pengotor yang harus dipisahkan pada tahap berikutnya.

Penyadap, Yono, yang melakukan kegiatan ludang, memperoleh 12 omplong hasil sadapan. Menurutnya, pengumpulan hasil membutuhkan perhatian agar getah yang dibawa dari lapangan tetap dalam kondisi baik.

“Waktu mengambil getah, kami juga melihat apakah ada kotoran yang ikut terbawa. Hasil perlu dijaga sejak dari pohon agar saat dikumpulkan tidak terlalu banyak material lain yang ikut,” ujarnya.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga mutu getah sebenarnya dimulai jauh sebelum hasil melewati saringan. Teknik penyadapan, kebersihan wadah, posisi penampungan, dan waktu pengumpulan turut menentukan kondisi hasil.

Bagi masyarakat, saringan mungkin terlihat sebagai alat sederhana yang hanya berfungsi menahan kotoran. Namun, keberadaannya memiliki peran dalam mencegah material asing ikut masuk ke proses berikutnya.

Jika getah dikumpulkan dari banyak pohon, sedikit pengotor dari setiap wadah dapat terakumulasi dalam jumlah besar ketika seluruh hasil digabungkan. Karena itu, pengendalian mutu perlu dilakukan secara bertahap.

Penyadap menjaga hasil sejak dari lapangan. Selanjutnya, getah diterima dan diperiksa di Tempat Pengumpulan Getah (TPG). Pada setiap tahapan tersebut, kondisi getah perlu diperhatikan agar kualitas hasil tetap terjaga.

Perhutani terus mendorong penyadap agar tidak hanya berorientasi pada jumlah hasil. Kebersihan dan cara penanganan juga merupakan bagian dari produktivitas. Getah yang telah dikumpulkan perlu dijaga agar tidak kehilangan nilai akibat masalah yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Sebanyak 12 omplong yang dikumpulkan Yono bukan hanya menunjukkan jumlah hasil sadapan. Di baliknya terdapat proses pengumpulan yang membutuhkan ketelitian agar getah yang sampai pada tahap penerimaan tetap dalam kondisi baik.

Pada akhirnya, saringan bukanlah alat yang dapat membuat seluruh getah menjadi berkualitas. Fungsinya sederhana dan jelas, yaitu membantu memisahkan benda asing yang seharusnya tidak ikut terbawa.

Melalui pesan “Hutan Lestari Kita”, Perhutani mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga mutu hasil hutan dimulai dari hal-hal sederhana. Satu saringan mungkin hanya menahan beberapa benda asing, tetapi apabila ketelitian tersebut dilakukan secara konsisten, langkah kecil itu menjadi bagian dari upaya menjaga mutu getah sejak dari pohon hingga tahap pengolahan.(Byt/Mei)

Editor: Nasyia
Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *