Perhutani Banyumas Timur Perkuat Pengecekan Sadapan untuk Jaga Produktivitas Getah Pinus

BANYUMAS TIMUR (18/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus melakukan pengecekan kegiatan penyadapan untuk menjaga produktivitas sekaligus kondisi pohon pada Senin (17/08). Salah satu hal yang ditemukan di lapangan adalah perbedaan aliran getah antarpohon. Ada pohon yang getahnya terlihat lebih deras, sementara pohon lainnya mengeluarkan getah lebih lambat meskipun berada di kawasan yang sama.

Kondisi tersebut terlihat saat pengecekan sadapan di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Jatilawang. Salah seorang penyadap, Sumarto, sedang melakukan pembaruan bidang sadap sekaligus mengerok getah yang masih menempel pada area sebelumnya.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jatilawang, Pratikno, mengatakan bahwa perbedaan produksi getah antarpohon merupakan hal yang dapat terjadi secara alami. Setiap pohon memiliki respons yang berbeda terhadap penyadapan. Kondisi biologis dan lingkungan di sekitar pohon turut menentukan banyaknya getah yang keluar.

“Setiap pohon memiliki kondisi yang berbeda. Umur, ukuran dan kondisi batang, posisi pohon, serta lingkungan sekitar dapat memengaruhi respons terhadap penyadapan. Karena itu, penyadap perlu melihat kondisi pohon secara langsung dan tidak menyamaratakan perlakuan pada semua pohon,” ujarnya.

Getah pinus merupakan resin yang berada dalam saluran resin pada jaringan pohon. Ketika dilakukan penyadapan, luka pada batang memicu keluarnya resin. Namun, jumlah dan kecepatan alirannya dapat berbeda antara satu pohon dan pohon lainnya.

Umur menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Pohon dengan ukuran dan kondisi pertumbuhan yang berbeda dapat memiliki karakter produksi yang berbeda pula. Kondisi batang juga berpengaruh. Batang yang sehat dan memiliki bidang sadap yang baik dapat memberikan respons berbeda dibandingkan batang yang kondisinya kurang optimal.

Posisi pohon di dalam kawasan juga turut berpengaruh. Intensitas cahaya, kelembapan, suhu, kondisi tanah, hingga ketersediaan air dapat membentuk lingkungan tumbuh yang berbeda. Bahkan, pohon yang berjarak tidak terlalu jauh dapat mengalami kondisi mikro lingkungan yang berbeda.

Karena itu, getah yang mengalir lebih lambat tidak serta-merta menunjukkan adanya kesalahan dalam penyadapan. Pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi dan kemungkinan penyebabnya.

Dalam pengecekan di RPH Jatilawang, penyadap Sumarto terlihat memperbarui bidang sadap. Ia juga mengerok sisa getah yang telah mengeras dan menempel di sekitar bidang sadap sebelum melanjutkan pekerjaan.

“Kalau melakukan pembaruan, bagian bidang sadap harus diperhatikan. Getah yang sudah mengeras juga perlu dibersihkan agar kondisi bidang sadap terlihat. Dari situ kami bisa melihat bagaimana respons pohonnya dan menyesuaikan pekerjaan berikutnya,” ujarnya.

Pembaruan bidang sadap bukan sekadar membuat luka baru. Pekerjaan tersebut perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi bidang sadap yang sudah ada. Penyadap harus menjaga agar pembukaan bidang tidak berlebihan dan tetap sesuai dengan teknik yang berlaku.

Hal ini menunjukkan bahwa penyadapan membutuhkan pengamatan secara terus-menerus. Penyadap tidak hanya datang untuk mengambil getah, tetapi juga perlu mengenali perubahan kondisi pohon dari waktu ke waktu.

Bagi masyarakat awam, perbedaan aliran getah mungkin terlihat seperti hal sederhana. Padahal, satu pohon memiliki kondisi yang tidak selalu sama dengan pohon lainnya. Produktivitas getah merupakan hasil interaksi antara karakter pohon, teknik penyadapan, dan lingkungan tempat pohon tumbuh.

Karena itu, angka produksi sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai hasil akhir. Di balik getah yang terkumpul terdapat proses panjang dan pekerjaan penyadap yang membutuhkan ketelitian.

Perhutani terus mendorong pengecekan sadapan di tingkat tapak sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas. Dengan mengetahui kondisi pohon secara langsung, penyadapan dapat dilakukan secara lebih tepat dan tidak hanya mengejar hasil dalam jangka pendek.

Melalui pesan “Cerita Penjaga Hutan”, Perhutani mengajak masyarakat melihat lebih dekat pekerjaan penyadap. Getah yang mengalir deras maupun yang lebih lambat sama-sama memiliki cerita. Dari sana, ketelitian dalam membaca kondisi pohon menjadi bagian penting untuk menjaga hutan tetap produktif dan lestari. (Byt/Mei)

Editor: Annisha
Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *