Perhutani Banyumas Timur Sesuaikan Teknik Sadap di Medan Curam RPH Serang

BANYUMAS TIMUR (02/09/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memperhatikan kondisi lapangan dalam kegiatan penyadapan getah pinus, termasuk pada tegakan yang berada di medan dengan kemiringan cukup tinggi, Rabu (02/09). Kondisi lereng menjadi salah satu faktor yang membuat kegiatan penyadapan membutuhkan penyesuaian, baik dari sisi akses, posisi penyadap, maupun pola sadapan yang diterapkan.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Timur, Bambang Sutanto, mengatakan bahwa kegiatan penyadapan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana getah dapat diperoleh, tetapi juga bagaimana prosesnya dilakukan dengan aman dan tetap memperhatikan kondisi pohon serta medan kerja.

“Setiap lokasi memiliki karakter yang berbeda. Pada medan yang curam, penyadap perlu menyesuaikan cara bekerja agar tetap aman, sementara kegiatan sadap tetap berjalan sesuai ketentuan,” ujarnya.

Pada lereng curam, posisi pohon dapat berada pada elevasi yang berbeda. Jarak antar pohon juga dapat terasa lebih jauh karena penyadap harus mengikuti kontur lahan. Kondisi tersebut membuat perjalanan dari satu pohon ke pohon lain membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak dibandingkan medan yang relatif datar.

Pola kerja pun perlu disesuaikan dengan kondisi tersebut. Penyadap perlu memperhatikan pijakan sebelum melakukan aktivitas pada batang. Posisi tubuh harus stabil ketika membuka atau memperbarui quarre. Peralatan juga perlu dibawa dengan cara yang tidak mengganggu keseimbangan saat berpindah di antara tegakan.

Penyesuaian bukan berarti mengubah prinsip dasar penyadapan. Quarre tetap dikerjakan dengan memperhatikan ukuran dan kondisi batang. Posisi talang dan wadah juga perlu diperhatikan agar getah yang keluar dapat tertampung dengan baik.

Kondisi medan juga dapat memengaruhi ritme pengumpulan getah. Pada lokasi yang sulit dijangkau, waktu yang dibutuhkan penyadap untuk menyelesaikan satu jalur kerja dapat lebih panjang. Karena itu, capaian produksi perlu dibaca bersama dengan kondisi tegakan dan karakter medan.

Hal tersebut terlihat saat pengecekan lokasi sadapan di RPH Serang. Dalam kegiatan tersebut, diketahui bahwa salah satu penyadap, Taryono, sudah mulai melakukan ludang dan hasil yang diperoleh sementara mencapai satu omplong. Kondisi tersebut menjadi bagian dari dinamika lapangan yang perlu dipantau, bukan sekadar dilihat dari jumlah getah yang terkumpul.

“Medan curam memang memberikan tantangan tersendiri. Namun, tantangan itu bisa dihadapi dengan pola kerja yang menyesuaikan kondisi lapangan, kedisiplinan penggunaan peralatan, serta pemantauan secara berkala,” katanya.

Kepala RPH Serang, Agus Ruswanto, menambahkan bahwa pengecekan langsung juga penting untuk melihat apakah kondisi sadapan sudah berjalan dengan baik. Dari lapangan, petugas dapat mengetahui kondisi quarre, akses menuju lokasi, kesiapan penyadap, hingga potensi kendala yang dapat memengaruhi pengumpulan getah.

“Bagi Perhutani, menjaga produktivitas getah tidak berarti memaksakan pola kerja yang sama di semua tempat. Justru, pemahaman terhadap karakter setiap tegakan menjadi bagian penting dalam menjaga kegiatan penyadapan tetap aman, efektif, dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Melalui pendekatan tersebut, kegiatan penyadapan diharapkan tetap memberikan hasil optimal sekaligus menjaga pohon dan keselamatan penyadap. Sebab, di balik setiap omplong getah yang terkumpul, terdapat proses kerja yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi hutan. (Byt/Mei)

Editor: Annisha

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *