Perhutani dan Penyadap Pinus Jaga Produktivitas Getah dan Kelestarian Hutan untuk Kesejahteraan Masyarakat

BANYUMAS TIMUR (26/06/2026) | Saat sebagian besar masyarakat masih memulai aktivitas, penyadap getah pinus di wilayah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur telah lebih dulu memasuki kawasan hutan. Udara yang masih sejuk menjadi teman perjalanan mereka menuju petak-petak pinus yang setiap hari menghasilkan getah—salah satu hasil hutan bukan kayu andalan Perhutani.

Rutinitas itu dilakukan hampir setiap hari. Hari ini, Jumat (26/06), Suhadi Ratum, penyadap di Petak 25 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sidamulih menyusuri jalur hutan sambil membawa peralatan kerjanya. Setibanya di pohon, ia memeriksa kondisi bidang sadap, membersihkan kotoran yang menempel, lalu memulai aktivitas sadapan seperti biasa. Ketelitian menjadi bagian penting agar pohon tetap sehat dan produksi getah dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kebasen, Kuswoyo, sangat memahami bahwa kegiatan sadapan bukan sekadar mengambil hasil hutan. Menurutnya, pekerjaan tersebut membutuhkan keterampilan, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap kelestarian tegakan pinus.

“Perhutani terus mendorong penyadapan dilakukan sesuai kaidah teknis. Bidang sadap harus dijaga agar tidak merusak pohon. Dengan cara itu, produksi getah tetap optimal sekaligus menjaga kelangsungan tegakan pinus untuk jangka panjang,” ujarnya.

Getah pinus merupakan hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Setelah dipanen, getah akan dikumpulkan dan dikirim ke tempat penampungan sebelum diolah menjadi berbagai produk turunan. Bahan baku tersebut dimanfaatkan untuk industri perekat, cat, tinta, kosmetik, hingga farmasi. Karena itu, kualitas getah sejak dipanen menjadi salah satu faktor yang sangat diperhatikan.

Di lapangan, Suhadi juga berperan sebagai satu pasang mata dan telinga KPH Banyumas Timur di antara ratusan penyadap lain. Saat bekerja, ia ikut mengamati kondisi kawasan hutan. Apabila menemukan pohon tumbang, tanda kebakaran, atau aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan hutan, informasi tersebut segera dilaporkan kepada petugas Perhutani. Peran ini membuatnya turut mendukung upaya perlindungan kawasan hutan.

Bagi Suhadi, setiap hari membawa tantangan yang berbeda karena kondisi cuaca dan medan hutan tidak selalu sama.

“Kalau musim hujan jalurnya lebih licin, sedangkan saat kemarau, kami harus lebih waspada terhadap potensi kebakaran hutan. Karena itulah, kami upayakan untuk bekerja dengan baik karena ini menjadi sumber penghasilan keluarga,” katanya.

Ia berharap kegiatan penyadapan dapat terus berjalan dengan dukungan semua pihak. Menurutnya, kelestarian hutan menjadi kunci agar penyadap tetap memiliki kesempatan bekerja pada masa mendatang.

Perhutani KPH Banyumas Timur terus melakukan pembinaan kepada para penyadap melalui pendampingan teknis, pemantauan kegiatan di lapangan, dan pengawasan terhadap mutu hasil sadapan. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas getah pinus, kesejahteraan penyadap, serta kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan yang memberi manfaat bagi masyarakat. (Byt/Mei)

Editor: Diono

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *