Perhutani KPH Banyumas Timur Optimalkan Penyadapan Getah Pinus di RPH Siweru

BANYUMAS TIMUR (06/09/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus melakukan pengecekan terhadap kegiatan penyadapan getah pinus, termasuk memastikan hasil yang keluar dari batang dapat tertampung dengan baik, Jumat (04/09). Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah getah yang justru menempel atau mengeras di sekitar bidang sadap.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Plt. Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangkobar, Sindar Pasaribu, mengatakan bahwa getah yang menempel di batang tidak selalu menunjukkan adanya kesalahan penyadap. Kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan beberapa faktor. Mulai dari kondisi pohon, bidang sadap, jalur aliran, suhu, hingga waktu pengambilan getah.

“Getah yang keluar dari pohon tidak selalu langsung masuk ke batok. Ada yang dapat tertinggal dan mengeras di sekitar batang. Karena itu, kondisi bidang sadap perlu diperhatikan. Perhutani perlu melihat penyebabnya, bukan hanya melihat hasil akhirnya,” ujarnya.

Secara alami, resin pinus keluar dari saluran resin ketika pohon mengalami luka sadap. Setelah keluar, resin akan mengalir mengikuti permukaan bidang sadap menuju talang dan kemudian masuk ke batok.

Namun, aliran tersebut tidak selalu berjalan sempurna. Getah dapat tertahan pada bagian tertentu apabila jalurnya tidak sesuai. Permukaan batang yang tidak rata juga dapat membuat aliran menyebar dan meninggalkan sebagian resin di sekitar luka.

Suhu juga menjadi faktor yang menarik untuk diperhatikan. Getah memiliki sifat yang dapat berubah mengikuti kondisi lingkungan. Ketika suhu lebih rendah, resin dapat menjadi lebih kental sehingga pergerakannya lebih lambat. Sebaliknya, kondisi yang lebih hangat dapat membuat resin lebih mudah mengalir.

Waktu pengambilan juga berpengaruh terhadap kondisi getah yang tertinggal. Semakin lama getah berada di permukaan batang, semakin besar peluang bagian tersebut mengalami perubahan dan mengeras. Karena itu, pengelolaan waktu pengumpulan menjadi bagian dari proses menjaga hasil.

Kondisi bidang sadap juga perlu diperhatikan. Luka yang dibuat pada batang harus memungkinkan resin keluar dan diarahkan menuju wadah. Talang perlu ditempatkan pada posisi yang mendukung aliran. Batok juga harus berada pada titik yang tepat agar getah tidak jatuh atau tertinggal.

Pengecekan kondisi tersebut dilakukan bersama Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Siweru dan Tenaga Alih Daya (TAD), Ardi, di petak 32. Pengecekan menjadi bagian dari pemantauan untuk melihat kondisi sadapan secara langsung.

Kepala RPH Siweru, Akhmad Muzamil, mengatakan bahwa pengamatan lapangan penting karena kondisi setiap pohon tidak selalu sama.

“Kalau ada getah yang menempel di batang, petugas Perhutani lihat dulu kondisi sadapannya. Bisa dari aliran, posisi talang, atau kondisi getahnya. Jadi tidak langsung menyimpulkan penyebabnya hanya dari satu faktor,” ujarnya.

Setelah pengecekan sadapan, kegiatan dilanjutkan dengan timbang ulang getah pinus di Tempat Pengumpulan Getah (TPG) Karangkobar. Penimbangan tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan angkutan pada hari berikutnya.

Ardi menambahkan bahwa bahwa pengecekan dan penimbangan ulang membantu memastikan hasil yang akan diangkut sesuai dengan kondisi penerimaan.

“Setelah hasil diterima, hasil timbangan dipastikan lagi. Ini penting supaya data dan kondisi fisik getah yang disiapkan untuk angkutan bisa sesuai,” ujarnya.

Dari sisi penyadap, kondisi getah yang tertinggal di batang juga menjadi perhatian. Penyadap dapat melihat secara langsung apakah getah mengalir menuju batok atau justru masih banyak yang menempel di sekitar bidang sadap.

“Kalau ada yang menempel, biasanya kami perhatikan lagi kondisi alirannya. Talang dan batok juga harus dipastikan posisinya supaya getah bisa masuk dengan baik,” imbuh Ardi.

Bagi masyarakat awam, getah yang mengeras di batang mungkin terlihat seperti bagian biasa dari pohon. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi informasi tentang bagaimana resin bergerak setelah keluar dari luka sadap.

Tidak semua getah yang menempel berarti terbuang dalam jumlah besar. Namun, jika terjadi berulang pada banyak pohon, bagian yang tertinggal dapat menjadi potensi kehilangan hasil. Karena itu, detail kecil tetap perlu diperhatikan.

Penting juga untuk membedakan antara getah yang sengaja tertinggal karena proses alami dengan getah yang tidak tertampung akibat posisi perangkat sadap yang kurang tepat. Pengamatan lapangan membantu membedakan kedua kondisi tersebut.

Perhutani terus mendorong penyadap dan petugas untuk melihat proses produksi secara menyeluruh. Mulai dari kondisi pohon, teknik penyadapan, pemasangan talang, pengumpulan, hingga penerimaan di TPG.

Pengecekan di petak 32 dan timbang ulang di TPG Krkobar menunjukkan bahwa menjaga produksi bukan hanya soal mengejar jumlah. Hasil yang sudah keluar dari pohon juga perlu dijaga agar dapat terkumpul dengan baik dan tercatat sesuai kondisi sebenarnya.

Pada akhirnya, perjalanan getah dimulai dari satu tetes kecil di batang. Tetes tersebut harus melewati jalur sadap sebelum masuk ke batok, kemudian dikumpulkan dan dibawa menuju TPG. Setiap titik memiliki potensi kehilangan apabila tidak diperhatikan.

Melalui pesan “Melangkah Bersama Merawat Hutan”, Perhutani mengajak penyadap untuk lebih peka terhadap kondisi pohon dan hasil sadapan. Memahami mengapa getah menempel di batang menjadi langkah kecil untuk menjaga setiap tetes tetap bernilai, sekaligus memastikan kegiatan penyadapan berjalan dengan baik dan berkelanjutan. (Byt/Mei)

Editor: Nisa

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *