Perhutani KPH Banyumas Timur Pantau Penyadapan untuk Optimalkan Produksi Getah Pinus

BANYUMAS TIMUR (06/10/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memantau kegiatan penyadapan untuk memahami berbagai faktor yang memengaruhi hasil getah pinus, Senin (05/10). Salah satu anggapan yang kerap muncul adalah cuaca cerah tanpa hujan akan membuat getah yang terkumpul otomatis lebih banyak. Padahal, hubungan antara cuaca dan hasil sadapan tidak sesederhana itu.

Tidak adanya hujan memang memberikan keuntungan dalam proses penampungan. Risiko air hujan masuk ke dalam batok menjadi lebih rendah sehingga getah dapat terkumpul tanpa tambahan air dari luar. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta meningkatkan jumlah getah yang dikeluarkan pohon. Cuaca kering lebih berkaitan dengan kondisi penampungan, sedangkan banyak sedikitnya getah dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain.

Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Barat, Bambang Ruswanto, menjelaskan bahwa hasil penyadapan perlu dilihat berdasarkan kondisi lapangan secara menyeluruh. “Cuaca cerah memang membantu mengurangi risiko air hujan masuk ke wadah penampungan. Namun, banyaknya getah tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya hujan. Kondisi pohon, bidang sadap, dan pelaksanaan penyadapan juga perlu diperhatikan,” ujarnya.

Pohon pinus menghasilkan getah sebagai bagian dari sistem pertahanannya. Getah yang keluar dari bidang sadap kemudian mengalir melalui talang menuju wadah penampungan. Jumlah yang terkumpul bergantung pada kemampuan pohon menghasilkan getah serta kondisi yang memengaruhi alirannya. Karena itu, dua pohon yang disadap pada hari dengan cuaca sama belum tentu menghasilkan jumlah getah yang serupa.

Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Lebaksiu, Khalim, menambahkan bahwa kondisi tegakan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Karakteristik dan kondisi setiap pohon dapat berbeda. Selain itu, suhu, ketersediaan air, kelembapan, dan kondisi lingkungan turut memengaruhi respons fisiologis pohon. Musim kemarau sendiri tidak selalu memberikan dampak yang sama di setiap lokasi.

“Cuaca kering dapat mengurangi air yang masuk ke wadah, tetapi kondisi yang terlalu kering juga dapat memengaruhi aktivitas fisiologis pohon,” ungkapnya.

Teknik penyadapan juga berperan dalam proses pengumpulan getah. Bidang sadap perlu dikelola sesuai tahapan dan kondisi pohon. Talang harus mampu mengarahkan aliran getah menuju batok, sementara wadah perlu ditempatkan dengan tepat agar getah tidak terbuang. Jika salah satu bagian tersebut kurang optimal, getah yang sebenarnya telah keluar dari pohon belum tentu seluruhnya tertampung.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan cek sadapan di RPH Lebaksiu. Pada lokasi kerja Karso, kegiatan penyadapan masih berada pada tahap awal karena baru satu kali dilakukan pembukaan quarre, yaitu bidang sadap pada batang pinus. Untuk periode ini, Karso merencanakan setoran sebanyak dua fiber.

Karso menjelaskan bahwa hasil yang diperoleh perlu dilihat seiring dengan proses penyadapan yang sedang berjalan. “Saya baru satu kali melakukan pembukaan quarre. Untuk periode ini, saya merencanakan setoran dua fiber. Nanti hasilnya tetap mengikuti getah yang terkumpul di lapangan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa hasil setoran perlu dibaca berdasarkan tahapan pekerjaan dan hasil pengumpulan selama periode tertentu. Rencana dua fiber merupakan target setoran Karso, bukan jumlah hasil yang sudah dipastikan tercapai. Realisasi akhirnya tetap bergantung pada getah yang berhasil terkumpul.

Pemantauan sadapan membantu melihat kondisi bidang sadap dan perkembangan pekerjaan penyadap. Data setoran kemudian dapat digunakan untuk membandingkan hasil aktual antarperiode. Dengan cara tersebut, penilaian produksi tidak hanya bertumpu pada kesan bahwa cuaca sedang mendukung, tetapi juga pada catatan hasil dan kondisi nyata di lapangan.

Cuaca cerah memang dapat membantu menjaga penampungan dari air hujan. Namun, jumlah getah tetap merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Memahami perbedaan ini penting agar perubahan produksi tidak langsung dikaitkan dengan satu penyebab saja.

Perhutani terus mendorong pemantauan kegiatan penyadapan secara cermat, mulai dari kondisi pohon dan bidang sadap hingga penampungan serta pencatatan hasil. Dengan begitu, setiap perubahan produksi dapat dipahami berdasarkan kondisi yang lebih menyeluruh. Melalui langkah nyata di lapangan, pengelolaan getah diharapkan semakin terukur sekaligus mendukung pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan. (Byt/Mei)

Editor: Nisa

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *