BANYUMAS TIMUR (02/09/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memperhatikan karakter setiap tegakan pinus dalam pengelolaan produksi getah, Rabu (02/09). Perbedaan lokasi dapat membuat kondisi pohon tidak sepenuhnya sama, meskipun jenis pohon dan kegiatan penyadapannya serupa.
Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Timur, Bambang Sutanto, mengatakan bahwa capaian produksi getah perlu dilihat bersama kondisi tempat tumbuhnya. Setiap petak memiliki karakter yang berbeda sehingga respons pohon terhadap lingkungan juga tidak selalu sama.
“Produksi getah tidak berdiri sendiri. Kondisi tegakan, medan, ketinggian, dan lingkungan tempat tumbuh ikut membentuk kondisi pohon. Karena itu, hasil di satu petak tidak bisa langsung dijadikan ukuran untuk petak lainnya,” ujarnya.
Salah satu faktor yang membedakan tegakan adalah ketinggian tempat. Perubahan elevasi dapat memengaruhi suhu, kelembapan, serta pola penerimaan cahaya. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh terhadap lingkungan mikro di sekitar pohon.
Kemiringan lereng juga memberikan pengaruh tersendiri. Pada lereng yang curam, air hujan dapat lebih cepat mengalir mengikuti permukaan tanah. Sebaliknya, kondisi lahan dengan kemampuan menyimpan air yang lebih baik dapat memberikan lingkungan perakaran yang berbeda. Posisi lereng juga dapat memengaruhi paparan sinar matahari dan tingkat kelembapan di sekitar tegakan.
Karakter tanah menjadi faktor lain yang tidak kalah penting. Dua petak yang berada pada ketinggian hampir sama belum tentu memiliki kemampuan menyimpan air dan menyediakan unsur hara yang sama. Perbedaan kedalaman tanah, tekstur, hingga kondisi permukaan tanah dapat memengaruhi pertumbuhan pohon.
Kondisi tersebut kemudian bertemu dengan karakter masing-masing pohon. Umur, ukuran batang, kesehatan tajuk, serta kondisi fisiologis pohon dapat membuat respons terhadap lingkungan menjadi berbeda. Artinya, perbedaan hasil getah tidak cukup dijelaskan hanya dengan melihat jumlah pohon atau luas petak.
Dalam kegiatan lapangan, pemahaman terhadap perbedaan tersebut penting ketika mengevaluasi hasil penyadapan. Angka produksi dapat menjadi informasi awal, tetapi pengecekan kondisi tegakan membantu menjelaskan apa yang terjadi di balik angka tersebut.
Gambaran itu terlihat dalam kegiatan penerimaan getah pinus bersama beberapa penyadap tenaga alih daya di Tempat Pengumpulan (TP) Bantu Purbasari Karangjambu. Salah satunya adalah Sutoyo yang membawa hasil getah dengan capaian 500 kilogram.
“Penerimaan di tempat pengumpulan menjadi salah satu tahapan untuk melihat hasil yang kami peroleh dari lapangan,” katanya.
Kepala RPH Karangreja, Lulus Winantoro, menambahkan bahwa angka tersebut tetap perlu dibaca sebagai bagian dari proses panjang yang melibatkan kondisi tegakan, jalur sadapan, karakter pohon, serta kemampuan penyadap dalam mengelola kegiatan di lapangan.
Dengan cara pandang tersebut, perbedaan produksi antarpetak tidak selalu berarti ada petak yang “lebih baik” dan petak lain “lebih buruk”. Bisa jadi keduanya memang tumbuh dalam kondisi lingkungan yang berbeda.
Perhutani terus mendorong pemantauan lapangan agar pengelolaan getah tidak hanya berorientasi pada pencapaian angka. Memahami karakter setiap tegakan membantu menentukan langkah pengelolaan yang lebih sesuai dengan kondisi setempat.
Pada akhirnya, setiap petak memiliki kondisi tumbuhnya sendiri. Memahami perbedaan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas tanpa mengabaikan karakter pohon dan lingkungan tempatnya tumbuh. Dengan begitu, setiap hasil getah dapat dibaca bukan sekadar sebagai angka, tetapi sebagai cerita dari kondisi hutan tempat getah tersebut dihasilkan. (Byt/Mei)
Editor: Nasyia
Copyright © 2026
















Leave a Reply