CEPU, BLORA RAYA (10/08/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Nglobo dan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kaliklampok meningkatkan penerapan standar operasional prosedur dalam setiap kegiatan reboisasi sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian ekosistem. Salah satu langkah yang diterapkan adalah pemasangan acir atau ajir sebelum bibit pohon ditanam pada areal reboisasi, Minggu (09/08).
Perhutani KPH Cepu melalui BKPH Nglobo memastikan pemasangan acir dilakukan sebagai bagian penting dalam tahapan penanaman. Acir berupa bilah bambu yang berfungsi sebagai penanda titik lokasi lubang tanam sehingga proses penggalian tanah dapat dilakukan secara lebih akurat dan efisien.
Kepala BKPH Nglobo, Achmad Kairul Salam, menjelaskan bahwa pemasangan acir bukan sekadar formalitas dalam kegiatan penanaman pohon. Penentuan titik tanam yang tepat melalui pemasangan acir berfungsi mengatur jarak tanam secara terukur di seluruh areal hutan yang direhabilitasi.
“Penentuan titik tanam melalui pemasangan acir sangat penting untuk mengatur pola dan jarak tanam secara tepat. Dengan jarak yang teratur, setiap tanaman memiliki ruang tumbuh yang cukup sehingga dapat berkembang secara optimal dan mengurangi persaingan antartanaman pada masa mendatang,” jelas Achmad.
Kepala RPH Kaliklampok, Ahmad Jasfain, menambahkan bahwa pola jarak tanam yang presisi memastikan setiap bibit mendapatkan ruang tumbuh secara seimbang. Dengan demikian, kebutuhan unsur hara, air, dan sinar matahari dapat diterima tanaman secara optimal.
“Pengaturan posisi tanaman yang dipandu oleh acir juga memberikan dampak positif dalam jangka panjang terhadap struktur tegakan. Vegetasi yang tertata dan terukur akan mendukung pertumbuhan pohon yang sehat, kokoh, serta memiliki nilai ekologis dan ekonomi,” ujar Ahmad.
Sementara itu, pesanggem yang turut membantu pemasangan acir, Jumadi, menyampaikan bahwa keberadaan patok penanda tersebut juga memudahkan petugas lapangan dan pesanggem dalam melakukan pemantauan tanaman secara berkala. Di tengah kondisi semak dan vegetasi yang cukup rapat, acir menjadi penanda visual untuk menemukan lokasi bibit, terutama saat kegiatan pemeliharaan seperti penyiangan gulma dan pemupukan.
“Acir sangat membantu kami saat melakukan pemeliharaan tanaman. Dengan adanya tanda tersebut, lokasi bibit lebih mudah ditemukan sehingga kegiatan penyiangan dan pemupukan dapat dilakukan dengan lebih tertib,” ungkap Jumadi.
Melalui penerapan pengelolaan tanaman yang terukur sejak tahap awal penanaman, Perhutani KPH Cepu berharap keberhasilan kegiatan reboisasi dapat meningkat. Pemasangan acir yang sederhana tetapi memiliki fungsi penting tersebut menjadi salah satu langkah awal dalam membangun tegakan hutan yang sehat, tertata, dan lestari untuk mendukung kelestarian lingkungan serta manfaat bagi generasi mendatang. (Cpu/Pai).
Editor: Diono
Copyright © 2026
















Leave a Reply